Jumat, Desember 19, 2008

Edisi 37, Desember 2008 - Januari 2009

Kaum Muda: Tahun Ini Mau Berbuat Apa?


Keuskupan Agung Semarang menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Kaum Muda. Seharusnya pertanyaan di atas ditujukan langsung pada kaum muda bukan pada saya. Kenapa? Pertama, saya tidak mewakili apa yang sedang dipikirkan dan direncanakan oleh kaum muda. Kedua, mereka sendirilah para aktor dan para pelaku kegiatan Tahun Kaum Muda itu.

Karena redaksi BerKat menyodorkan pertanyaan itu pada saya, mau tidak mau saya mencoba berpikir dan berusaha menjawabnya. Ini bukan arahan pastoral bagi kaum muda apalagi sebuah program kerja. Tak lebih dari lamunan dan impian saya pada kaum muda agar mau berbuat sesuatu.

Saya membayangkan dan melamunkan kaum muda sebagai generasi: idealis, kreatif, kritis dan nyleneh (berani tampil beda).

Kaum muda itu idealis, berani menggantungkan cita dan harapan setinggi bintang. Sikap idealis ini sering kita pandang secara negatif tidak realistis, di awang-awang atau sebagai sebuah mimpi. Namun tidak jarang justru idealisme atau mimpi kaum muda ini menjadi sebuah kenyataan. Masih segar dalam ingatan kita butir-butir Sumpah Pemuda . Sumpah itu adalah idealisme dari kaum muda 1928 yang kemudian menjadi cikal bakal dari Negara Kesatuan Indonesia. Kaum muda adalah generasi yang kaya akan ide-ide cemerlang yang memang sering berbau outopis.

Kaum muda itu kreatif, selalu melihat alternatif baru. Ketika menghadapi persoalan, kaum muda selalu saja mencari alternatif pemecahannya. Kaum muda itu dinamis tidak suka status quo yang menghambat kreativitas. Dunia kaum muda adalah dunia yang selalu bergerak dan berputar menemukan bentuk dan jati dirinya. Untuk menegaskan jati diri mereka, tidak sedikit kaum muda yang secara kreatif membentuk organisasi politik, organisasi kemasyarakatan dan organisasi sosial.

Kaum muda itu kritis, tidak bisa tinggal diam, selalu gatal untuk memberi apresiasi. Bila ada sebuah kebijakan yang tidak adil, kaum muda selalu tampil, bersuara dan mengkritisinya. Terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil, misalnya, mereka punya banyak cara mengkritisi kebijakan tidak adil itu, bisa kritik secara langsung yaitu dengan menyampaikan aspirasi dan pendapat mereka atau kritik yang dikemas dalam happening art. Memang tidak jarang kaum muda menggunakan pengerahan massa yang berpeluang diprovokasi oleh orang-orang tidak bertanggungjawab.

Kaum muda itu nyleneh, berani dan percaya diri saat tampil beda. Nyleneh itu bisa berkonotasi negatif jika dimengerti sebagai asal beda. Namun bisa juga berarti positif kalau dimengerti sebagai keberaniaan dan kepercayaan diri tampil beda bukan asal beda. Hasrat kaum muda adalah ingin tampil beda atau nyleneh sesuai dengan jati dirinya. Bisa dimengerti karena pada usia itu mereka sedang menentukan jati diri, akunya aku itu rambut gimbal, sedangkan akunya dia itu rambut perak. Tidak hanya penampilan fisik, barang kepunyaan, kamar, sepeda motor dst, cara mengungkapkan pendapat dan cara pembawaan diripun kadang nyleneh juga.

Begitulah, lamunan saya tentang kaum muda.

Beberapa waktu lalu Bapa Suci hadir dalam World Youth Day (Hari Kaum Muda) sedunia di Australia dan menyampaikan pesan penting bagi Orang Muda Katolik seluruh dunia. Beliau menggarisbawahi pentingnya menjadi saksi-saksi Kristus: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu” (Kis 1:8)”.
Bayangan dan lamunan saya tentang Orang Muda Katolik pun diperkaya satu unsur lagi, yaitu menjadi saksi Kristus. Maka bisa ditambahkan klausul: Kaum Muda Katolik itu saksi Kristus! Benarkah demikian? Jika belum terjadi, apa yang harus dibuat agar menjadi saksi Kristus? Di medan dunia macam apa kaum muda harus menampilkan kesaksian? Bagaimana kesaksian itu sendiri?

Agar menjadi saksi Kristus, kaum muda harus menerima kuasa Roh Kudus. Bapa Suci menggarisbawahi pentingnya mengolah kehidupan rohani supaya kaum muda menjadi terbuka pada karya Roh Kudus. Bapa Suci menegaskan bahwa berkat karya dan kuasa Roh Kudus, para murid diubah menjadi saksi-saksi Kristus yang ulung. “Para nelayan yang lemah ini telah menjadi duta Injil yang bersemangat. Bahkan para musuh mereka tidak bisa memahami bagaimana “orang-orang yang tak berpendidikan dan biasa saja” (bdk Kis 4:13) mampu menunjukkan semangat seperti itu, serta kuat menahan kesukaran, penderitaan dan penganiayaan dengan gembira. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Terhadap mereka yang mencoba membungkam mereka, para rasul itu menjawab: “Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (Kis 4:20)”.

Bagaimana Roh Kudus yang sama bisa kita (kaum muda) terima? Melalui sakramen-sakramen inisiasi Gereja mencurahkan rahmat Roh Kudus dan melantik orang kristen menjadi saksi-saksi Kristus. Dalam Ekaristi, kehidupan kristen dipupuk dan kembangkan menjadi dewasa. Maka, bila Orang Muda Katolik ingin menjadi saksi Kristus, pertama-tama mereka harus memperdalam kehidupan rohani dengan menghayati sakramen-sakramen Gereja.

Dengan demikian ciri dan kekhasan mereka sebagai kaum muda: idealis, kreatif, kritis dan nyleneh dijiwai oleh Roh Kudus dan diabdikan demi kemuliaan Allah. Tanpa kedalaman hidup rohani, tanpa Roh Kudus tinggal dalam hati mereka, idealisme bisa jadi mimpi-mimpi kosong, kreativitas bisa jadi asal beda, kekritisan bisa berubah jadi serangan untuk menjatuhkan dan nyleneh berkembang aneh-aneh tanpa orientasi.

Itulah tantangan kaum muda kita kalau saya ditanya tahun ini mau buat apa? Buatlah ruang bagi Roh Kudus berkarya dalam hati dan hidup Anda, menjiwai idealisme Anda, menginspirasi kreativitas dan kekritisan Anda dan memberi bentuk pada ke-nylenehan Anda!
(materius kristiyanto, pr)

Kemenangan Itu Milik Kita


Barangkali itulah kata-kata yang pas diungkapkan untuk Cathedral Semarang Children Choir, Paduan Suara Anak dan Remaja Paroki Katedral. Meski baru dibentuk sekitar 1,5 bulan yang lalu ternyata sudah menorehkan prestasi yang cukup membanggakan yakni menjadi Juara I Lomba Koor Anak dan Remaja Antar Paroki Se-Keuskupan Agung Semarang.

Lomba diadakan pada tanggal 23 November 2008 bertempat di Paroki Kumetiran Yogyakarta dan diikuti oleh 12 kelompok Koor dari Paroki Se-Keuskupan diantaranya dari Paroki Banyumanik Semarang, Paroki Danan Surakarta, Stasi Krapyak Paroki Bongsari Semarang, Paroki Somohitan dan Paroki Kumetiran Yogyakarta.

Setelah saling berlomba dan memberikan penampilan yang terbaik akhirnya Dewan Juri yang terdiri dari Rm. MY. Rio Winarto, Pr (Komisi Liturgi KAS bidang musik), Suster Mel Boga CB, dan Bp. Martin Widodo memutuskan para pemenang sebagai berikut: Juara Harapan II Paroki Banyumanik, Juara Harapan I Paroki Danan Surakarta, Juara III Paroki Somohitan Yogyakarta, Juara II Paroki Kumetiran Yogyakarta dan Juara I Paroki Katedral Semarang.

Proficiat untuk Cathedral Semarang Children Choir. Proficiat untuk pelatih, organis, official dan ibu bapak yang telah memberikan dukungan selama ini. Semoga kemenangan ini membuat kita semakin solid dan menjadi paduan suara yang senantiasa terbuka untuk memberi pelayanan di gereja kita.

Kaum Muda Memilih


Barangkali inilah model pemilihan Koordinator Kaum Muda Paroki Katedral yang baru pertama kali dilaksanakan. Bagaimana tidak? Pada Minggu, 30 November 2008, mulai pukul 07.00 hingga 12.00, kaum muda begitu antusias menyalurkan aspirasinya secara langsung untuk memlih Koordinator Kaum Muda yang baru. Mulai dari pendaftaran, penerimaan kartu suara, melakukan pencoblosan, memasukkan ke dalam kotak suara hingga pemberian tanda dengan mencelupkan jari ke tinta untuk pemilih yang sudah melaksanakan haknya.

Ada 4 kandidat yang diajukan untuk dipilih. Sdri. Hatmi dari wilayah Yohanes, Sdr. Ndaru dari wilayah Lukas, Sdr. Hasto dari wilayah Maria Fatima dan sdri. Dani dari wilayah Markus. Masing-masing kandidat memiliki program-program unggulan yang sebelumnya sudah disosialisasikan ke masing-masing wilayah.

Setelah proses pemberian suara selesai dilaksanakan, pemilihan kemudian dilanjutkan dengan proses penghitungan suara disaksikan oleh para saksi, panitia pemilihan, Romo Herman dan Romo Kendar. Dari 194 kertas suara yang disediakan ada 112 yang sudah dipergunakan. Dan dari hasil proses penghitungan suara didapatkan: 41 orang memilih Sdr. Hasto, 26 orang memilih Sdr. Ndaru, 23 orang memilih Sdri. Hatmi, 19 orang memilih Sdri. Dani dan 3 orang abstain. Dari hasil ini kemudian ditetapkan bahwa Sdr. Hasto yang memiliki program unggulan 'resik-resik gereja' di hari valentine sebagai Koordinator Kaum Muda yang baru.

Proficiat untuk Sdr. Hasto. Semoga kemenangan ini menjadi langkah awal untuk membangun kerjasama yang lebih erat, antar kaum muda, antar paguyuban dan seluruh umat yang berada Paroki Katedral ini. Tuhan memberkati.

Ziarah Lektor

Sabtu, 6 Desember 2008, pukul 22.00. Tim Lektor Katedral berkumpul di halaman depan gereja. Mereka sudah tidak sabar untuk segera berangkat menuju ke Gua Maria Kaliori, yang terletak di daerah Banyumas, Jawa timur. Sebelum berangkat kami berdoa bersama dipimpin oleh Rm. Sugiyono selaku Romo pendamping lektor. Dan setelah itu kami pun segera berangkat diiringi cuaca yang begitu cerah.

Pukul 02.00 dini hari, ketika kegelapan masih menyelimuti, kami tiba di Kaliori. Wajah-wajah bangun tidur menghiasi muka kami. Meski demikian kami tetap bersemangat mengikuti jalan salib. Perhentian demi perhentian kami lakukan dengan hati penuh syukur. Sampai akhirnya kami tiba di Gua Maria. Di sini kami berdoa dengan kusyuk seolah Bunda Maria sendiri yang memeluk kami dalam dekap hangatnya. Sementara di luar, Tuhan memberkati kami dengan mencurahkan hujan.

Tepat pukul 06.00 wib, seusai mandi pagi, kami bersiap-siap berangkat ke Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto untuk mengikuti misa pagi. Dengan mata masih terkantuk-kantuk kami mencoba mengikuti misa secara utuh. Di tempat ini, kami sempat berkenalan dengan beberapa orang dan 2 orang suster untuk saling berbagi kasih dan salam.

Setelah misa berakhir, kami meneruskan perjalanan ke Owabong, tempat plesiran terakhir yang kami kunjungi. Walaupun hujan terus turun namun tak menyurutkan langkah bagi beberapa teman kami untuk berenang. Kami semua tenggelam dalam kegembiraan yang tiada terkira. Setelah lelah berenang, kami makan siang bersama. Dan setelah itu kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang.

Ah...tak terasa selesai sudah acara perjalanan kami, dan kami pun sampai di Semarang sekitar pukul 21.00 wib. Akhir kata, sayonara kawan-kawan, semoga semangat mewartakan injil terus menyala di hati. Tuhan memberkati.
(yofranka)

Studi Banding ke Purwokerto

Malam 13 Desember 2008, cuaca mendung. Bulan sekan-akan malu dan enggan menampakkan cahayanya. Kami pengurus Dewan Paroki Katedral yang terdiri dari Bidang Liturgi beserta seluruh tim kerjanya, PIA-PIR, kaum muda, komsos, koster, petugas sekretariat dan perwakilan pengurus wilayah Sampangan didampingi Rm. Sugiyana, Pr, tengah bersiap-siap melakukan perjalanan ke Purwokerto. Jadwal keberangkatan yang sedianya pk. 21.00 menjadi molor karena ada beberapa dari kami yang belum hadir. Akhirnya pk. 22.00 kami mulai berangkat.

Pk. 02.00 kami tiba di Kaliori. Rintik hujan yang tidak begitu deras menyambut kedatangan kami. Membuat kami enggan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat peristirahatan di Wisma Retret Maria Imakulata karena harus kami tempuh dengan berjalan kaki + 200 m di tengah kegelapan. Namun terdorong oleh rasa kantuk dan hasrat untuk segera memeluk bantal guling di atas kasur yang hangat, membuat beberapa dari kami nekad menerobos hujan.

Tak terasa, baru saja kami memejamkan mata, hari sudah beranjak pagi. Setelah mandi dan sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto. Tempat inilah yang menjadi tujuan kami untuk melaksanakan studi banding.

Setelah mengikuti Perayaan Ekaristi bersama umat Purwokerto, kami disambut hangat oleh Pengurus Dewan Paroki Katedral Purwokerto. Sejenak kami beristirahat sambil menikmati kue srabi dan tempe mendoan dengan laburan sambal kecap beserta teh hangat dan coffe mix. Meski sederhana tapi sungguh terasa nikmat.

Kemudian kami berkumpul bersama untuk saling berkenalan dan bertukar pikiran. Romo. T. Puryatno, Pr selaku romo kepala paroki dan yang mewakili Dewan Paroki Katedral Purwokerto merasa sangat bahagia dengan kunjungan ini. Ia mengumpamakan peristiwa ini sebagai ‘yang besar mengunjungi yang kecil’ yang diharapkan akan membawa peneguhan iman. Lebih lanjut, beliau mengharapkan kita bisa saling belajar bersama dan saling melengkapi.

Rm. Sugiyana, Pr yang mendapat giliran selanjutnya mengutarakan alasan mengapa harus datang ke Paroki Katedral Purwokerto. Selain karena masih sama-sama katedral juga karena jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Selanjutnya romo mengajak rombongan dari Katedral Semarang untuk memperkenalkan diri satu demi satu.

Paroki Kristus Raja Purwokerto merupakan salah satu dari 22 paroki yang berada di bawah Keuskupan Purwokerto. Terdiri dari 19 lingkungan dan 11 stasi dengan 5 romo sebagai gembala umat. Jumlah umat + 4000 orang. Saat ini Paroki Katedral Purwokerto memfokuskan diri untuk menggarap SDM yang ada di dalamnya agar lebih bisa memberikan pelayanan kepada umat. Guna mendukung hal ini sudah dibuat pedoman untuk 10 th ke depan itu mau berbuat apa dengan harapan ke depan sudah mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Selain itu juga sudah dibuat beberapa pedoman untuk karya-karya pelayanan di dalam gereja diantaranya; pedoman untuk karyawan, pedoman visi dan misi paroki, pedoman pendampingan ppa (putra-putri altar), pedoman keuangan paroki, pedoman penggunaan PASCALIS HALL (gedung serba guna seperti gedung Sukasari), pedoman pelaksanaan dewan paroki dan panduan praktis pelayanan pastoral. Dengan pedoman-pedoman ini diharapkan siapapun dapat membaca, memahami, melaksanakan dan kemudian mengevaluasinya sehingga semuanya akan selalu mengalami pembaharuan (3 th sekali) dan revisi untuk penyempurnaan.

Setelah berkumpul dalam kelompok besar, kemudian kami membagi diri dalam masing-masing tim kerja. Di sini terjadi pembicaraan-pembicaraan yang begitu hidup. Masing-masing saling bertanya jawab, saling mengisi dan saling melengkapi.

Tiada pertemuan yang tak akan berakhir. Tak ada perjumpaan yang tak bergandeng dengan perpisahan. Demikian juga dengan kami. Setelah makan siang, kata penutup dari Bp. Siranto dan pemberian kenangan-kenangan serta doa penutup dan pemberian berkat, berakhir sudah kunjungan studi banding kami siang itu. Sebagai kenang-kenangan kami berfoto bersama di halaman gereja dengan berlatar sebuah lonceng besar.

Terima kasih atas kehangatan dan sambutan yang sudah kami terima. Terima kasih atas berbagai masukan, saran, ilmu serta penyegaran yang juga boleh kami terima. Semoga semua ini semakin membuat kita tekun dalam pelayanan demi kemuliaan namaNya. Selamat berpisah. Selamat berjumpa di lain kesempatan. Tuhan memberkati.

SANTO THOMAS AQUINO Imam dan Pujangga Gereja

Thomas lahir di Aquino, dekat Monte Cassino, Italia pada tahun 1225. Keluarganya adalah sebuah keluarga bangsawan yang kaya raya. Ayahnya, Pangeran Landulph, berasal dari Aquino, sedang ibunya, Theodora, adalah putri bangsawan dari Teano.

Ketika berusia 5 tahun, Thomas dikirim belajar pada para rahib Benediktin di biara Monte Cassino. Disana Thomas memperlihatkan suatu kepandaian yang luar biasa. Ia rajin belajar dan tekun berefleksi serta tertarik pada segala sesuatu tentang Tuhan. Ketika berusia 14 tahun, Abbas Monte Cassino, yang kagum akan kecerdasan Thomas, mengirim dia belajar di Universitas Napoli.

Di universitas itu, Thomas berkembang pesat dalam pelajaran filsafat, logika, tatabahasa, retorik, musik dan matematika. Ia bahkan jauh lebih pintar dari guru-gurunya pada masa itu. Di Napoli, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan karya-karya Aristoteles yang sangat mempengaruhi pandangan-pandangannya di kemudian hari.

Thomas yang tetap menjauhi semangat duniawi dan korupsi yang merajalela di Napoli, segera memutuskan untuk menjalani kehidupan membiara. Ia tertarik pada corak hidup dan karya pelayanan para biarawan Ordo Dominikan yang tinggal di sebuah biara dekat kampus universitas tempat dia belajar. VERITAS (Kebenaran) yang menjadi motto para biarawan Dominikan sangat menarik hati Thomas.

Keluarganya berusaha menghalang-halangi dia agar tidak menjadi seorang biarawan Dominikan. Mereka lebih suka kalau Thumas menjadi seoarang biarawan Benediktin di biara Monte Cassino. Untuk itu berkat pengaruh keluarganya, dia diberi kedudukan sebagai Abbas di Monte Cassino. Tetapi Thomas dengan gigih menolak hal itu. Agar bisa terhindar dari campurtangan keluarganya, ia pergi ke Paris untuk melanjutkan studi. Tetapi di tengah jalan, ia ditangkap oleh kedua kakaknya dan dipenjarakan di Rocca Secca selama dua tahun. Selama berada di penjara itu, keluarganya memakai berbagai cara untuk melemahkan ketetapan hatinya. Meskipun demikian Thomas tetap teguh pada pendirian dan panggilannya.

Di dalam penjara itu, Thomas menceritakan rahasianya kepada seorang sahabatnya, bahwa dia telah mendapat rahmat istimewa. Ia telah berdoa memohon kemurnian budi dan raga pada Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya dengan mengutus dua orang malaekat untuk meneguhkan dia dan membantunya agar tidak mengalami cobaan-cobaan yang kotor dan berat.

Selama di dalam penjara, Thomas diizinkan membaca buku-buku rohani dan terus mengenakan jubah Ordo Dominikan. Ia menggunakan waktunya untuk mempelajari Kitab Suci, Metafisika Aristoteles dan buku-buku dari Petrus Lombardia. Ia sendiri membimbing saudarinya dalam merenungkan Kitab Suci hingga akhirnya tertarik juga menjadi seorang biarawati. Akhirnya keluarganya menerima kenyataan bahwa Thomas tidak bisa dipengaruhi. Mereka membebaskan Thomas dan membiarkan dia meneruskan panggilannya sebagai seorang biarawan Dominikan.

Untuk sementara Thomas belajar di Paris. Ia kemudian melanjutkan studinya di Cologna, Jerman di bawah bimbingan Santo Albertus Magnus, seorang imam Dominikan yang terkenal pada masa itu.

Di Cologna, Thomas ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1250. Pada tahun 1252 dia diangkat menjadi seorang professor di Universitas Paris dan tinggal di biara Dominikan Santo Yakobus. Ia mengajar Kitab Suci dan lain-lainnya dibawah bimbingan seorang professor kawakan. Tak seberapa lama Thomas terkenal sebagai seorang Pujangga yang tak ada bandingannya pada masa itu. Ia jauh melebihi Albertus Magnus pembimbingnya di Cologna dalam pemikiran dan kebijaksanaan.

Tulisan-tulisannya menjadi harta Gereja tak ternilai hingga saat ini. Taraf kemurnian hatinya tidak kalah dengan ketajaman akal budinya yang mengagumkan; kerendahan hatinya tak kalah dengan kecerdasan budi dan kebijaksanaannya. Oleh karena itu, Thomas diberi gelar “Doctor Angelicus”, yang berarti “Pujangga Malaekat”.
Pada tahun 1264 ia ditugaskan oleh Sri Paus Urbanus IV (1261-1264) untuk menyusun teks liturgi Misa dan Ofisi pada pesta Sakramen Mahakudus. Lagu-lagu hymne (pujian) antara lain “Sacris Solemnis” dan “Lauda Sion” menunjukkan keahliannya dalam Sastra Latin dan Ilmu Ketuhanan.

Dalam suatu penampakan, Yesus Tersalib mengatakan kepadanya, “Thomas, engkau telah menulis sangat baik tentang DiriKu. Balasan apakah yang kau inginkan daripadaKU?” Thomas menjawab: “Tidak lain hanyalah DiriMu!”

Dalam perjalanannya untuk menghadiri konsili di Lyon, Prancis, Thomas meninggal dunia di Fossa Nuova pada tahun 1274.

KAMBING DAN SERIGALA

Pada jaman dahulu, kambing berteman dengan serigala. Mereka hidup dalam damai dan saling tolong satu sama lain.

Suatu malam, kambing tengah terjaga. Sudah bolak-balik ia berusaha memejamkam mata tetapi tetap saja tidak bisa tidur. Dalam kepalanya terus saja terpikir sesuatu. Sesuatu yang membuatnya menjadi uring-uringan beberapa hari ini. “Aku harus bisa seperti serigala!” jerit hatinya. “Alangkah senangnya menangkap mangsa. Alangkah enaknya makan daging. Aku sudah bosan dengan makananku sehari-hari. Hanya rumput, rumput dan rumput melulu. Pokoknya, aku harus bisa seperti serigala!” tekad kambing, pasti.

Keesokan harinya, saat matahari masih malu-malu memberikan sinarnya, kambing bergegas ke rumah serigala. Di sana, dilihatnya serigala masih asyik bermalas-malasan di atas tempat tidur.

“Serigala, ayo cepat bangun! Aku ingin berburu denganmu,” teriak kambing.

Serigala terkejut. Sesaat ia melihat ke arah asal suara itu. Dilihatnya kambing sudah berada di depan pintu rumahnya. Sejenak ia merasa heran lalu katanya, “Eh, apa aku tidak salah dengar? Bukankah engkau tidak bisa berburu?” tanya serigala dengan wajah keheranan.

“Makanya aku pergi ke sini. Aku ingin kamu mengajari aku bagaimana caranya berburu dan menangkap mangsa. Aku ingin merasakan daging buruanku,” jawab kambing penuh semangat.

Serigala semakin terheran-heran. Namun ia tak ingin mengecewakan sahabatnya itu terlebih ia sudah paham watak kambing. Jika sudah memiliki keinginan, pasti tidak bisa dicegah.

Mereka segera menuju ke tempat perburuan di balik bukit. Tempat di mana serigala biasa berburu. Dan memang, tempat itu dipenuhi hewan-hewan lain dari beragam jenis. Ada rusa, kelinci, kuda, harimau, burung dan masih banyak lagi.

Serigala mulai bersiap-siap. Pertama-tama ia mencari tempat persembunyian untuk mengintai hewan buruannya. Setelah menetapkan target, segera ia berlari dan mulai mengejar sang buruan. Tak berapa lama seekor kelinci telah berhasil ditangkapnya.

Kambing semakin iri melihat kepandaian sahabatnya. Dengan tidak sabar, ia minta diajari. Dan setelah merasa cukup mengerti, kambing ingin segera mencoba untuk berburu. Pertama-tama setelah mengintai beberapa saat, ia menetapkan seekor anak rusa gemuk yang tengah asyik makan sebagai sasaran. Dengan mengendap-endap kambing mulai mendekati anak rusa itu. Setelah dirasa cukup dekat, kambing segera berlari.

Anak rusa itupun terkejut melihat kedatangan kambing. Dengan reflek ia segera berlari menyelamatkan diri. Terjadi saling kejar. Kambing yang tidak biasa berlari segera saja ‘ngos-ngosan’ dan tertinggal jauh. Akhirnya anak rusa itu menghilang dari pandangan.

Kambing tidak putus asa. Segera ia menetapkan target buruan yang lain. Namun hal yang sama terus saja terulang. Ia gagal mendapatkan hewan buruannya hingga hari beranjak sore.

“Sudahlah kambing, ini memang bukan pekerjaanmu. Ayo kita segera pulang,” ajak serigala.

Kambing yang begitu kelelahan dengan kaki-kaki yang gemetaran karena rasa capai yang tidak terkira hanya bisa menggangguk. Dengan langkah tertatih-tatih ia mengikuti serigala dari belakang.

Sesampai di rumah, serigala segera menghidangkan hasil buruannya di atas meja. Kambing sangat bersukacita atas kemurahan sahabatnya. “Tidak apa hari ini aku gagal, toh aku masih bisa makan daging buruan serigala, “ begitu pikirnya. Segera ia mengambil sepotong daging itu, mengigitmya sebentar dan kemudian menelannya. Aneh rasanya. Tiba-tiba perutnya terasa mual. Tapi kambing tidak mempedulikannya. Ia mengambil potongan-potongan daging yang lain. Mengunyahnya dengan tidak sabar. Terus dan terus. Tiba-tiba: “Aduh, sakit sekali…” teriak kambing sambil memegangi lehernya.

Serigala yang sedang asyik makan terkejut melihat sahabatnya. “Ada apa kambing…” Tergopoh-gopoh serigala mendekati kambing.

“A.. a.. ada tulang nyangkut di tenggorokanku. Tol..tolong aku serigala… Aku tidak bisa bernapas!” Kambing merem melek menahan rasa sakit yang luar biasa. Sementara serigala semakin kebingungan tidak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya kambing tidak sempat tertolong. Ia menemui ajal akibat kebodohannya sendiri.

Natal Bagi Kita dan Sesama

Masa persiapan Natal disebut sebagai masa Adven (Adventus=kedatangan). Dalam masa ini ada 3 gagasan pokok yang mesti kita renungkan. Kita mengenangkan keda-tangan Kristus untuk pertama kalinya yaitu penjelmaannya dalam wujud bayi mungil di dalam palungan. Mempersiapkan kedatangan-Nya secara sakramental pada hari Natal dan kita menanti-nantikan kedatangan-Nya pada akhir zaman.

Lalu dimanakah hubungan kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman dengan masa Adven menyongsong pesta kelahiran Sang Penyelamat? Dalam kisah-kisah kelahiran Yesus ditekankan pentingnya nilai kesederhanaan. Kesederhanaan dari kelahiran-Nya hingga orang-orang yang mengimaninya. Dia yang lahir di Betlehem itu sama dengan Dia yang nanti akan datang kembali dengan segala kemuliaan-Nya pada akhir zaman. Bagaimana tokoh yang sederhana itu bisa sama dengan Dia yang akan datang dengan mulia dan akan memperoleh kuasa atas dunia ini? Di sisi lain dapat dikatakan bahwa kedatangan penyelamat yang kita songsong dalam masa Adven akan membuat kita seperti kota Yerusalem. Bila menolak maka kota itu akan hancur dan bilamana menerimanya, kota itu akan menjadi kota suci yang abadi. Jadi, kedatangan penyelamat yang persiapannya dirayakan dalam masa Adven akan menentukan nasib banyak orang.

Dengan demikian, ajaran kristiani mengenai hari terakhir seperti dalam Kitab Suci bukan ajaran yang menekankan kapan hari itu dalang, melainkan ada pada 2 hal ini yang perlu direnungkan yaitu:
1.Orang Kristiani menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali yang akan mengajak orang-orang yang berkehendak baik dan percaya untuk ikut serta dalam kebesaran-Nya (Mak 13:24-32). Hal ini adalah kepastian iman.

2.Mengenai penghakiman terakhir yang ditekankan bukan perihal hukuman atau pahala melainkan ajaran untuk mawas diri apakah orang menghormati kemanusiaan dan punya andil dalam meringankan penderitaan sesama.

Oleh karena itu orang diajak bersiap-siap tidak hanya tinggal diam dan mendahului Tuhan melainkan ikut serta mengusahakan kemanusiaan yang makin cocok dengan martabat yang diimani pencipta, dengan bertanggung jawab kepada sesama dan membawakan wajah Tuhan Yesus Maharahim bukan Tuhan yang menghukum. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan aksi Natal yang bermanfaat bagi sesama di sekitar kita.

Dengan demikian sebagai orang yang percaya akan kebangkitan Kristus, orang kris-tiani sudah ambil bagian dalam kenyataan akhir zaman secara batiniah. Akhir zaman itu sudah dialami Kristus dan akan dibagikan kepada kita sampai utuh. Yang penting kini adalah dapat mempertanggungjawabkan apa andil kita dalam membuat kema-nusiaan makin ikut serta bangkit dan mendapat perkenan dari Tuhan.

Masih banyak waktu. Dan waktu menjadi jalan rahmat bagi diri kita dan bagi sesama untuk saling bekerjasama menghadirkan Tuhan walau beda agama maupun status ekonomi sekalipun. Yang terpenting kehadiran kita bisa menjadi berkat, sehingga Tuhanlah yang selalu dipuji dan dimuliakan. Jadi warta kristiani adalah warta gembira bukan warta yang meniupkan rasa takut dan was-was akan hari kiamat.
(ign. sodiman)

Liturgi Sabda

Gereja mendapatkan santapan rohani dari dua meja yaitu dari meja Sabda, Gereja semakin diasah dan dari meja Ekaristi, Gereja semakin disucikan. Dalam Sabda Allah, perjanjian Ilahi diwartakan, tetapi dalam ekaristi perjanjian baru dan kekal dibaharui. Yang satu mengumandangkan sejarah keselamatan dalam bunyi kata-kata; yang satunya menampilkan sejarah keselamatan yang sama dengan lambang-lambang sakramental dalam liturgi.

Perayaan ekaristi, dimana Sabda didengarkan dan Ekaristi dipersembahkan serta disantap, merupakan satu tindak ibadat kudus; dalam ibadat itu sekaligus di-hunjukkan kurban pujian kepada Allah dan dilaksanakan penebusan manusia dengan sepenuhnya.

Dengan demikian perayaan liturgi menggunakan Kitab Suci selain karena antara Sabda dan Ekaristi merupakan satu tindak ibadat kudus juga karena rasa tanggung jawab harus mewartakan Injil dan menuntun para beriman kepada seluruh kebenaran.

Bacaan-bacaan Kitab Suci dan nyanyian-nyanyian tanggapan merupakan ba-gian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat dan doa umat memperda-lam liturgi sabda dan menutupnya (Ordo Lectionum Missae).

Dalam bacaan (yang diuraikan dalam homili), Tuhan sendirilah yang bersabda kepada umatNya. Di sini Tuhan menyingkap misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan santapan rohani. Dengan perantaraan SabdaNya, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah umat beriman.

Sabda Tuhan itu diresapi oleh umat dalam nyanyian dan diimani dalam syaha-dat. Setelah dikuatkan oleh Sabda, umat memanjatkan permohonan-permohonan dalam doa umat untuk kepentingan Gereja dan keselamatan seluruh dunia.

1. BACAAN-BACAAN KITAB SUCI
Bacaan Kitab Suci tidak boleh dihilangkan dan dikurangi, apalagi diganti den-gan bacaan-bacaan lain yang bukan dari Kitab Suci. Begitu juga nyanyian-nyanyian yang diambil dari Kitab Suci. Mengapa? Sebab lewat Sabda Allah yang diwariskan secara tertulis itulah “Allah masih terus berbicara kepada umatNya”. (Sacrosanctum Concilium 33).

Selama satu tahun liturgi dan khususnya selama masa Prapaskah, Paskah dan Adven; bacaan-bacaan dipilih dan diatur dengan tujuan agar para beriman Kristen secara sistematis dapat mengenal iman yang mereka akui serta sejarah keselamatan dengan lebih mendalam.

Bacaan Kitab Suci diatur dalam Tata Bacaan Misa Ritus Romawi. Aturan yang satu ini dimaksudkan agar semua orang beriman, khususnya mereka yang banyak sebab tidak selalu ikut dalam jemaat yang sama dapat mendengarkan di mana-mana, bacaan-bacaan yang sama pada hari dan masa liturgi tertentu dan dapat merenungkannya pada situasi yang konkrit.

Azas-azas penyusunan tata bacaan misa

a.Pemilihan kutipan
Alur bacaan dalam “Masa Biasa” diatur sebagai berikut: Kutipan-kutipan yang dianggap penting ditampilkan pada Hari Minggu dan Hari Raya sedangkan ku-tipan-kutipan pendukungnya ditampilkan pada tata bacaan Harian. Untuk tata bacaan perayaan orang kudus diatur dengan ketentuan khusus.

Tata bacaan Hari Minggu dan Hari Raya dijabarkan dalam tiga tahun, yaitu ta-hun A untuk Injil Mateus, tahun B untuk Injil Markus dan tahun C untuk Injil Lu-kas. Sedangkan Injil Yohanes dipakai untuk menambah Injil Markus pada tahun B yang isinya sedikit dan untuk Hari Raya. Tata bacaan Harian dijabarkan dalam dua tahun yaitu tahun I dan tahun II.

b.Pengaturan Bacaan pada Hari Minggu dan Hari Raya
Ciri-cirinya:
1.Setiap Perayaan Ekaristi mempunyai tiga bacaan: Perjanjian Lama, Perjan-jian Baru dan Injil. Pengaturan ini dimaksudkan supaya tampak adanya ke-terpaduan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan sejarah ke-selamatan, yang berpusat pada Kristus dan kenangan akan misteri PaskahNya.

2.Kutipan yang sama dibacakan sekali dalam tiga tahun.

3.Tema bacaan diatur menurut asas hubungan tematis yaitu bacaan Perjanjian Lama terutama dipilih atas dasar keselarasannya dengan Perjanjian Baru, khususnya Injil. Bentuk hubungan lain dapat dijumpai dalam Masa Adven, Masa Prapaskah, Masa Paskah; yakni masa yang mempunyai bobot dan tema yang khas.

4.Lain halnya hari-hari Minggu Biasa, bacaan Perjanjian Baru (selain Injil) dengan bacaan Injil diatur menurut susunan semi kontinyu sedangkan ba-caan Perjanjian Lama secara tematis berkaitan dengan Injil.

c.Pengaturan bacaan pada hari-hari biasa
Aturannya adalah sebagai berikut:
1.Ada dua bacaan yaitu dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru selain Injil (dalam masa Paskah dari Kisah Para Rasul) dan Injil.

2.Untuk Masa Prapaskah, Masa Paskah, Masa Adven dan Masa Natal; berlaku lingkaran satu tahun dengan memperhatikan sifat khas masa tersebut. Bacaan-bacaannya setiap tahun sama.

3.Bacaan pertama berlaku lingkaran dua tahun. Bacaan Injil berlaku lingkaran satu tahun.

d.Kriteria untuk memilih dan mengatur bacaan
1.Pengkhususan buku sesuai masa liturgi
Kisah Para Rasul – selama masa Paskah
Injil Yohanes – selama pekan-pekan terakhir masa Prapaskah dan masa Paskah
Kitab Yesaya bagian pertama – selama masa Adven
Kitab Yesaya bagian lainnya – selama masa Natal
Surat 1Yohanes – selama masa Natal

2.Panjang kutipan
Bila kutipan berbentuk cerita boleh agak panjang, sebaliknya ajaran yang mendalam tidak boleh berkepanjangan. Untuk sejumlah kutipan yang pan-jang disediakan alternatif yang lebih singkat, bisa dipilih sesuai keadaan.

3.Kutipan yang sulit
Atas pertimbangan pastoral dihindarkan bahwa pada Hari Minggu dan Hari Raya diwartakan kutipan yang sungguh sulit karena akan menimbulkan problem kesusasteraan, penilaian dan penafsiran yang berbelit-belit.

4.Penghilangan beberapa ayat
Atas pertimbangan pastoral, penghilangan beberapa ayat diijinkan asal saja terjamin bahwa makna kutipan yang bersangkutan benar-benar tetap utuh.

2.MAZMUR TANGGAPAN
Mazmur tanggapan, yang disebut juga ‘graduale’, mempunyai makna liturgis dan pastoral yang cukup besar, sebab merupakan unsur pokok dalam liturgi sab-da. Maka dari itu para beriman perlu diajar dengan tekun, bagaimana menangkap firman Allah yang berbicara lewat mazmur-mazmur dan bagaimana mengolahnya menjadi doa Gereja.

Biasanya mazmur tanggapan itu dinyanyikan dengan cara responsorial, yang mana pemazmur membawakan ayat-ayat mazmur, sedangkan seluruh umat ber-peranserta melalui ayat ulangan. Bila dilagukan tanpa ayat ulangan, seluruh mazmur dinyanyikan entah hanya oleh pemazmur, entah oleh semua umat (ber-sama-sama), tanpa diselingi ayat ulangan.

Bila mazmur tanggapan tidak dinyanyikan, hendaknya dibawakan dengan cara didaras atau cara lain yang dianggap paling cocok untuk merenungkan firman Allah.

Mazmur tanggapan dinyanyikan atau didaraskan oleh pemazmur atau solis dari mimbar atau tempat lain yang dianggap pantas. (lihat PUBM no. 36).

3.BAIT PENGANTAR INJIL
Pada bagian ini umat beriman menyongsong dan menyalami Tuhan yang akan bersabda kepada mereka dan mengungkapkan imannya dalam suatu lagu. Bait Pengantar Injil ini harus dinyanyikan, bukan hanya oleh solis yang mengangkatnya atau oleh paduan suara, melainkan sehati sesuara oleh seluruh umat sambil berdiri.

Jika sebelum Injil hanya ada satu bacaan maka hendaknya diperhatikan:
a.Di luar Masa Prapaskah dapat dinyanyikan mazmur beserta alleluia dengan baitnya atau kedua-duanya.

b.Dalam Masa Paskah dapat dinyanyikan mazmur saja atau bait pengantar Injil.

SURAT SI ANAK DESA KEPADA YESUS

Jakarta, 1 Januari 2003.

SAHABATKU Yesus,

Kami baru saja selesai merayakan hari Natal-Mu yang ke 2002. Kali ini aku diundang pamanku ke Jakarta. Begitu mewah pesta Natal disini. Sepatu kickers seharga Rp.300.000,- yang kuterima sebagai hadiah Natal dari pamanku, enggan aku memakainya. Dengan harga sepatu ini, sudah cukup untuk makan kami sekeluarga sebulan, di desa.

Di malam tutup tahun aku diajak oleh pamanku yang kaya ini berpesta-pora di sebuah hotel termewah di ibu kota. Tahukah Kau sahabat, bahwa pamanku membayar Rp.400.000,- untuk tiket satu orang, sedangkan kami semuanya berjumlah 15 orang?

Sebagai anak desa yang baru pertama kali melihat keramaian Kota Jakarta, aku benar-benar tertegun, kagum tapi juga bingung. Betapa tidak? Dalam perjalanan kami menuju hotel di malam Tahun Baru itu, aku melihat puluhan anak-anak tanggung seusiaku yang menjual trompet kertas. Mereka basah kuyup ditimpa hujan, menggigil kedinginan berlindung di bawah pohon. Trompet kertas jualan mereka ditutupi dengan lembaran plastik agar tidak basah.

Karena hujan terus turun, nampaknya mereka pasti rugi, karena tidak ada pembeli. Selama pesta di hotel mewah itu, aku masih teringat kepada anak-anak sebayaku penjual trompet kertas. Mereka pasti kelaparan malam ini.

Bukankah mereka juga sahabat-sahabatmu, Yesus?

Teringat kepada mereka itulah, sekembaliku dari hotel, kutulis surat ini. Aku ingin bertanya kepadamu Yesus: Bisakah aku berterima kasih pada Tuhan bila hanya aku cukup pangan, sedangkan kawan sebayaku masih kelaparan?
Dapatkah aku berdoa: terima kasih Tuhan atas santapan mewah yang terhidang?

Bisakah aku memuji Tuhan bila hanya aku bersandang sutera, keluargaku bermobil banyak, berumah mewah, sedangkan sebayaku lainnya terlantar dengan telanjang tidur di kaki lima, di bawah kolong jembatan layang?
Masih dapatkah aku berdoa: terpujilah Tuhan karena segala kebaikan-Mu?

Bisakah aku memuliakan Tuhan bila hanya aku cukup gizi, beraga sehat, sedangkan kawan seusiaku menderita tbc, malaria dan muntaber tanpa kemungkinan mendapat obat?! Bisakah aku bersyukur kepada Tuhan bila hanya aku yang bebas, bertindak semauku tanpa tekanan, tanpa rintangan sedangkan begitu banyak mereka yang tertindas tak punya kesempatan untuk hidup layak?
Lalu haruskah aku berkata: terima kasih Tuhan, karena aku orang terpilih?

Ini bukannya surat cengeng, Yesus! Tapi aku tak habis mengerti: Mengapa orang-orang seperti pamanku itu membuang uang seenaknya, hanya demi kesenangan sekelompok kecil keluarga? Ah, aku kepingin cepat pulang ke desa tercinta. Jawablah surat ini Yesus, dan alamatkan ke desa kecilku di atas bukit. Kutunggu balasanmu,

Dari sahabatmu si anak desa.


Bethlehem, 7 Januari 2003.

SAHABATKU yang baik,
Tahukah Kau sahabatku, sewaktu Kau berada di Jakarta aku juga ada di sana?
Sewaktu Kau membuka bungkusan hadiah Natalmu, aku berdiri jauh di sudut gelap di bawah pohon asem di halaman rumah pamanmu. Kalian menyanyi dan menyebut namaKu, tapi aku sendiri tidak diundang masuk.

Sayang seandainya Kau hadir dalam perayaan Natal untuk para gelandangan di Senayan, pasti kita bertemu; karena aku ikut hadir di sana. Aku tahu kegelisahan yang menggeluti hatimu. Kau memang seorang sahabat yang baik, bahwa masih punya ingatan kepada orang lain yang kebetulan tidak seberuntung Kau.

Nah, dengarkanlah baik-baik pesanku: Kau diberi cukup pangan, bukannya untuk dirimu sendiri sehingga berbunga dalam kepongahan. Kau diberi kecukupan agar dibagikan kepada mereka yang berkekurangan; rezeki yang berkelimpahan, agar diteruskan kepada mereka yang lapar dan telanjang. Lalu mereka mengenal cinta Tuhan. Dan memuliakan Bapa di surga!

Kau memperoleh cukup sandang dan papan bukannya untuk bersantai di kursi bangga! Semua itu kau terima, agar mereka yang tak berdangau beroleh kehangatan lewat upayamu, pintu rumahmu, pelarian mereka yang menderita! Lalu mereka mengenal cinta Tuhan. Dan memuliakan Bapa di surga!

Kau cicipi kesehatan dan kebebasan bukannya untuk berbusung dada di keangkuhanmu; kau sehat, biar mampu menolong yang sakit, dan terlantar papa; Kau bebas, biar mampu berjuang bagi mereka yang tertindas. Lalu mereka mengenal cinta Tuhan. Dan memuliakan Bapa di surga!

Aku memilih kau jadi sahabatku bukannya supaya kau sejahtera sendiri di waktu kini dan kekekalan nanti. Kupilih Kau menjadi kawan sekerja untuk menyebar cinta di tengah dendam untuk membiak damai di tengah benci. Lalu mereka mengenal cinta Tuhan. Dan memuliakan Bapa di surga!

Salam hangat dari sahabatmu, Yesus.


Desa tak bernama, 14 Januari 2003.

YESUS yang baik,
Aku baru sehari kembali di desa, ketika suratmu tiba. Ai, begitu lega hatiku membaca pesanmu di alam terbuka tanpa polusi ini. Aku tidak mengeluh karena di sini tidak ada listrik, tapi aku berterima kasih padamu, atas sinar bintang yang lembut dan cahaya bulan yang begitu mesra.

Aku tidak mengeluh, karena di sini tidak ada orkes symphoni pimpinan Idris Sardi. Tapi aku berterima kasih padamu, karena begitu mesra terdengar konser burung di pepohonan.

Aku tidak mengeluh, karena di sini tidak ada TIM, Dufan, Taman Ria atau Taman Mini Indonesia Indah. Tapi aku berterima kasih padamu, atas bermekarannya anggrek hutan dan tarian bunga-bunga di lembah hijau!

Aku tidak mengeluh, karena di sini belum ada saluran air minum. Tapi aku berterima kasih padamu, atas air terjun dan sungai segar yang tidak pernah kering.

Aku tidak mengeluh karena di sini tidak ada telepon. Tapi aku berterima kasih padamu, karena aku bisa bercanda dengan sahabat-sahabatku.

Aku tidak mengeluh, karena di sini tidak ada hotel mewah. Tapi aku berterima kasih padamu, karena setiap rumah bersedia menampung siapa pun yang datang.

Aku tidak mengeluh, bahwa di sini kami masih miskin. Tapi aku berterima kasih, karena Tuhan menjadikan kami kaya, untuk mencintai setiap insan.

Bersama kau, Yesus, aku ingin mengabdi!
SahabatMu si anak desa.

Tinggalkan Telepon Genggam Di Rumah

Baru-baru ini saya ikut ambil bagian dalam Misa; tiba-tiba terdengar dering telepon genggam yang segera dimatikan. Hal ini terjadi dan terjadi lagi. Dering tersebut mengganggu orang banyak dan membuyarkan konsentrasi saya. Adakah peraturan mengenai penggunaan telepon genggam di gereja? ~ seorang pembaca

Telepon genggam merupakan trend baru. Semakin banyak saja orang yang memiliki telepon genggam dan terlihat mempergunakannya sementara mereka mengendarai mobil, berjalan kaki, menyusuri lorong-lorong supermarket, atau sekedar berdiri di suatu tempat. Lebih payah lagi, seorang imam teman saya di keuskupan lain, yang adalah imam paroki sebuah gereja yang berbentuk bundar, melihat para remaja di satu sisi gereja menelepon teman-teman mereka yang duduk di seberang, di sisi gereja yang lain. Kita mendengar telepon genggam berdering di pertokoan, di restoran, dan yang menyedihkan dalam perayaan Misa - betapa menjengkelkan. Bagi sebagian orang, telepon genggam yang diselipkan di ikat pinggang atau dalam dompet, atau bahkan dikalungkan di leher, memberikan gengsi tersendiri, teristimewa di kalangan para remaja; namun saya selalu bertanya-tanya, “Siapakah yang membayar pulsa mereka?” Walau telepon genggam sungguh memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam banyak hal, terutama dalam keadaan darurat, orang tidak boleh diperbudak oleh telepon genggam. Mengapakah orang harus selalu terus-menerus dapat dikontak? Seperti segala hal lainnya, ada masa dan saat yang tepat bagi segala sesuatu; dering telepon genggam yang mengganggu, sama sekali tidak dapat dibenarkan membuyarkan kekhidmadan perayaan Misa.

Memang tidak ada peraturan khusus mengenai telepon genggam, namun demikian rasa hormat terhadap Misa akan membantu kita memahami bagaimana menanggapi pertanyaan di atas. Konsili Vatikan Kedua, dalam “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” mengajarkan, “Sebab melalui Liturgilah dalam Korban Ilahi Ekaristi, `terlaksanalah karya penebusan kita'. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati” (No. 2).

Jangan pernah lupa bahwa kita berkumpul bersama sebagai Gereja untuk merayakan Misa agar dapat bersama dengan Tuhan kita, dan bahwa Ia sungguh hadir di antara kita (bdk “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” No. 7). Kristus hadir dalam Sabda Kitab Suci, “sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja.” Setiap orang wajib mendengarkan Sabda dengan seksama dan mencamkannya dalam hati.

Kristus hadir pula dalam imamat kudus yang Ia percayakan kepada para rasul-Nya, yang senantiasa diteruskan hingga hari ini melalui Sakramen Imamat kepada para imam-Nya. Seorang imam bertindak atas nama pribadi Kristus, jadi apabila imam melayani sakramen, Kristus Sendiri yang sesungguhnya melayani sakramen.

Kristus hadir dalam Ekaristi Kudus. Kurban berdarah Kalvari dihadirkan dalam kurban tak berdarah Misa Kudus. Roti dan anggur yang dipersembahkan sungguh diubah, di“transsubstansiasi” menjadi Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya. Kristus hadir secara istimewa bagi kita dalam Ekaristi Kudus; Ia mengundang setiap orang yang menerima Komuni Kudus untuk masuk ke dalam persatuan kudus dengan-Nya.

Kristus hadir dalam diri setiap orang beriman. Namun demikian, kehadiran-Nya ini paling sulit disadari. Kita harus memiliki kehendak untuk memilih Kristus di atas segalanya, dan mengasihi Kristus di atas segalanya. Setiap orang wajib berjuang untuk ikut ambil bagian sepenuhnya dalam perayaan Misa; menjadikan Misa sebagai suatu sembah sujud sejati kepada Allah. Dengan segala beban dan tanggung jawab yang harus dihadapinya tiap-tiap hari, umat beriman wajib memberikan satu jam saja selama seminggu dan mempersembahkan sepenuhnya bagi Allah, demi keselamatan jiwanya sendiri. Benar bahwa setiap orang harus bergulat melawan distraksi-distraksi yang mengganggu konsentrasinya dalam Misa, namun demikian setiap orang wajib melakukan yang terbaik guna melenyapkan sebanyak mungkin distraksi yang mungkin, dan memusatkan perhatian pada Misa Kudus.

Sebab itu, matikanlah telepon genggam. Dalam abad di mana komunikasi dapat dilakukan tanpa kabel, setiap umat beriman hendaknya mempergunakan bentuknya yang pertama, yaitu doa yang khusuk. Bukannya diinterupsi oleh dering telepon genggam, malahan setiap orang perlu menginterupsi hidupnya sehari-hari bagi Tuhan. Kita menjawab panggilan telepon seseorang yang mungkin sifatnya penting, tetapi menjawab panggilan Tuhan dalam Misa Kudus, baik sebagai anggota komunitas Gereja maupun sebagai pribadi, jauh terlebih penting. Jaringan telepon genggam kita dapat menjangkau hubungan internasional, tetapi jaringan ibadah sembah sujud kita dalam Misa Kudus bahkan menjangkau hubungan persekutuan dengan para kudus - yaitu persekutuan kita dengan semua santa dan santo serta para malaikat di surga, jiwa-jiwa di api penyucian dan segenap umat beriman di dunia ini - dan tanpa dibebani biaya roaming! Sebab itu, matikanlah telepon genggam dan biarkan baterainya diisi; dengan demikian baterai jiwa kita juga akan diisi. Marilah kita menjalin komunikasi sejati dengan Tuhan dalam Misa, daripada berkomunikasi dengan sesama, sebab tersedia banyak waktu untuk itu di luar Misa.

Dering telepon genggam yang berbunyi pada waktu Misa, mengganggu orang banyak yang berusaha mengarahkan diri dan memusatkan perhatian pada Tuhan. Dalam beberapa kesempatan, dering telepon yang berbunyi pada saat homili dan saat Doa Syukur Agung sungguh membuyarkan konsentrasi saya. Sebab itu, demi rasa hormat kepada Tuhan dan sesama, telepon genggam wajib dimatikan pada waktu Misa, dan bahkan jauh lebih baik jika ditinggalkan di rumah. Bagi sebagian orang, para dokter misalnya, yang mungkin sedang “dinas jaga”, nada getar sama efektifnya dengan nada dering. Marilah kita mempersembahkan kepada Tuhan perhatian yang penuh tak terbagi; tak ada seorang pun atau suatupun yang pantas mengganggu saat-saat kita yang berharga bersama Tuhan.

(P. William P. Saunders)
diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Jumat, November 28, 2008

Wajah Gereja Katedral Pada Tahun Anak-Remaja 2008

Berpikir dan melihat bagaimana program kerja serta fokus pastoral di paroki-paroki se Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2008 berarti melihat kiprah dan perhatian Gereja pada anak dan remaja dalam pengembangan lingkungan. Kiranya kurang tepat kalau kita hanya memfokuskan kiprah anak dan remaja saja, tanpa pemahaman menyeluruh dan jelas untuk apa anak dan remaja diberi fokus perhatian.

Pada permenungan kali ini, saya menawarkan dan mengajak para orangtua, pendamping PIA – PIR serta aktifis lingkungan/wilayah dan Paroki untuk sejenak memberi pehatian pada apa yang telah kita buat selama tahun 2008 ini.
Saya mempunyai impian dan pengandaian ada program kerja lingkungan/ wilayah yang secara khusus telah diancang untuk memberi porsi lebih bagi keterlibatan keluarga (fokus pastoral tahun 2007) yang kemudian diteruskan dengan memberi kesempatan lebih luas bagi kiprah anak dan remaja untuk pengembangan lingkungan di tahun 2008 ini.

Langkah awal, kita isi dulu data statistik atau kita ketahui keberadaan anak dan remaja serta lingkungan pembentukannya yang memungkinkan bagi kiprah anak dan remaja di lingkungan/wilayah bahkan hingga paroki kita. Pembuatan program berdasarkan data-data statistik dan situasi yang nyata, akan menyentuh kebutuhan dalam rangka koordinasi dan berjejaring di lingkungan se wilayah bahkan hingga ke paroki. Data awal (data anak dan remaja) dan kaum muda yang berasal dari lingkungan atau kelompok tertentu, misalnya:

No Jenis kelompok Jumlah Keterangan
Hingga tahun 2008: Sudah terdampingi
atau kegiatannya apa saja?
1. Anak usia dibawah 3 tahun

2. Anak usia 4 – 6 tahun atau KB/TK

3. Anak usia SD kelas 1 - 3

4. Anak usia SD kelas 4 – 6

5. Anak usia SMP kelas VII – IX

6. Anak usia SMA/SMK kelas X – XII

7. Pendamping Anak:
- Sekolah Minggu
- Putra Altar
- ………….
8. Pendampingan Remaja:
- PIR:
- …………..
- …………..
9. Pendampingan Kaum Muda
- Issue-issue yang baik untuk dipelajari, misal: Melèk Politik, global warming, penananaman nilai kehidupan

- Siapa saja yang terlibat

- Apa saja kegiatan yang telah dibuat

- Bagaimana berjejaring dengan kelompok lainnya

9. Pasutri usia nikah
- antara 0 – 5 tahun
- antara 6 – 10 tahun
- antara 11 – 15 tahun
- antara 16 – 20 tahun

Melalui data singkat dan pokok ini, akan kita ketahui peta dan wajah Gereja kita (mulai dari lingkungan, wilayah hingga paroki) sehingga kita bisa mengatakan, misalnya:
1. Pada tahun ini, jumlah anak dan remaja di lingkungan kami sekian orang. Mereka telah berkiprah dalam kegiatan lingkungan ini itu, dst.
2. Orangtua dan pendamping telah ambil bagian dalam kegiatan pendampingan iman anak – remaja melalui kegiatan ini dan itu, dst.
3. Pengurus Lingkungan telah memberi kesempatan dan berjejaring dengan kelompok PIA – PIR maupun pendampingnya sehingga kegiatan lingkungan yaitu ini dan itu telah dilibati oleh anak, remaja, kaum muda dan dewasa.
4. Alokasi dana yang disetujui untuk pendampingan anak dan remaja, juga keterlibatan peserta maupun orangtua sebagai sikap berbagi perhatian (dengan dasar berbagi lima roti dua ikan) untuk pelbagai kegiatan telah menunjukkan keterlibatan yang lebih dari unsur-unsur yang ada di lingkungan atau kelompok paguyuban. Dengan demikian gerakan berbagi sudah mulai dirasakan dengan buah hasilnya ini dan itu, dst.
5. Umpan balik dari orangtua mengenai perkembangan kepribadian dan kerohanian dari anak dan remaja yang telah didampingi secara khusus antara lain ini dan itu, dst.

Selamat merenung dan didukung dengan data-data yang ada, sehingga wajah Gereja kita telah diwarnai oleh keterlibatan anak dan remaja yang juga terukur. Sehingga ide berpastoral dengan data, telah menjadi cara bertindak di paroki kita yang menyandang gelar khusus: Paroki Katedral. Kalau kita masih kesulitan mengisi data-data tersebut, berarti kita masih perlu belajar rendah hati, berjejaring dan membiasakan diri dengan aneka catatan yang diperlukan. Kita masih dan akan terus menjadi dewasa dalam penataan kehidupan.
(fx. sukendar wignyosumarta, pr)

AGAR WAJAH GEREJA ANAK DAN REMAJA LEBIH HIDUP

Dunia anak dan remaja penuh dinamika hidup yang mempesona. Pertumbuhan menampilkan episode kehidupan yang berubah sangat cepat dari waktu ke waktu. Sering kali kita dikejutkan melihat cepatnya pertumbuhan seorang anak. “Wah sekarang sudah besar…, dulu saya mengenalmu masih kecil dan lucu…”. Demikian ungkapan yang sering terlontar saat melihat seorang anak yang pernah dikenal ’tiba-tiba’ sudah menjadi remaja, atau bahkan sudah menjadi pemuda-pemudi yang menjelang dewasa.

Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya
Kata-kata sub-judul tersebut di atas adalah kata-kata bijak yang perlu ditangkap oleh semua orang, baik para anak dan remaja, maupun para pembina, dan bahkan oleh kita semua: seluruh Gereja! Kita hidup di dunia hanya satu kali saja. Demikian juga, kita menjadi anak dan remaja juga hanya satu kali. Masa anak dan remaja adalah masa pembentukan kepribadian yang amat penting. Baik buruknya kepribadian seseorang dipengaruhi antara lain oleh pengalaman masa anak dan remajanya. Bila anak dan remaja tidak mendapatkan kasih selama perkembangannya kesempatan emas pun lewat dan tak tergantikan. Bila anak dan remaja kurang dilibatkan dalam kegiatan lingkungan dan paroki, maka sikap dan kepribadian mereka pun bisa terbentuk menjadi seperti itu (enggan terlibat) terhadap Gereja (semoga tidak).

Bagaimana memberi kesempatan?
Dalam kegiatan di lingkungan/wilayah/paroki, terlihat dengan jelas bagaimana anak dan remaja dilibatkan. Suatu saat, penulis datang melayani pemutaran film rohani di suatu lingkungan di daerah pedesaan. Banyak anak dan remaja diajak serta oleh orang tua mereka. Di daerah perkotaan, pelayanan yang sama hanya dihadiri oleh para orang tua, sedang anak dan remaja tidak terlihat. Memang, ada lingkungan yang merupakan Gereja muda, banyak anak dan remaja-nya, dan ada lingkungan yang kebanyakan umatnya adalah kaum dewasa dan lansia. Namun, ada kecenderungan di paroki kota memang kurang melibatkan anak dan remaja dalam kegiatan lingkungan. Para orang tua kurang mengajak anak dalam kegiatan di lingkungan, atau anak terlalu banyak tugas/kursus. Bila jumlah anak dan remaja di lingkungan hanya sedikit, anak dan remaja dapat diikut sertakan dalam kegiatan anak-remaja di paroki. Karena itulah, di paroki perlu ada kegiatan untuk anak dan remaja!

Kegiatan untuk anak dan remaja tidak terbatas pada Putera Altar, PIA dan PIR (Pembinaan Iman Anak dan Pembinaan Iman Remaja). Di Paroki Katedral sedang dirintis pembentukan paduan suara anak dan remaja (Sukses!). Selain itu ada juga perkumpulan anak dan remaja pendoa, seperti Legio Maria Yunior, yang sudah terbentuk (kembali) di Paroki Katedral (Selamat! Bdk. BERKAT Edisi 34/Juni-Juli 2008 hal.23). Di bidang pendidikan pun Legio Maria memberi Bimbingan Belajar (seperti yang diadakan Pelayanan Sosial GARAM), yang pasti dapat diperluas pelayanannya dengan acara permainan dan pelatihan seperti dalam Pramuka.

PIA, PIR dan Kaum Muda Paroki Katedral telah cukup sering menunjukkan kebolehannya dalam mengadakan sendratari dan visualisasi Kitab Suci di dalam Perayaan Ekaristi (Selamat!). Dalam Perayaan Ekaristi 80 tahun Paroki Katedral, akan diadakan juga visualisasi sejarah paroki (Sukses!). Visualisasi Kitab Suci merupakan kegiatan yang menarik bagi anak dan remaja. Orang tua akan terlibat juga untuk mengurusi perlengkapan dan kostum yang akan digunakan. PIA dan PIR di tingkat lingkungan/wilayah pasti mampu mengadakan visualisasi KS untuk acara-acara Natalan atau Paskahan di lingkungan/wilayah.

Aneka Permainan dan Lomba
Permainan dan lomba adalah acara yang selalu menarik bagi anak dan remaja. Anak dan remaja yang sedang tumbuh ingin berprestasi dan ingin agar prestasi mereka dihargai. Dalam Pramuka, selain ada ajang lomba yang formal, banyak permainan dalam acara latihan yang bersifat lomba. Permainan dan lomba dapat juga ditawarkan kepada anak dan remaja di lingkungan/wilayah/paroki. Lomba ketertiban Putera Altar, misalnya. Lomba Kitab Suci, seperti Cerdas Tangkas, Baca Mazmur, Mewarna, Menggambar, dll., cukup mudah diadakan. Dalam acara Pameran Kitab Suci di Sukasari tahun 2007 yl., diadakan lomba busana ibadat dan lomba menyanyi. Itu beberapa contoh lomba yang dapat/pernah dilaksanakan.

Festival Lagu Anak ”Ayo Puji Tuhan” antar paroki (bdk. BERKAT Edisi 34/Juni-Juli 2008 hal.14-15) termasuk kegiatan lomba yang sangat baik dan menarik. Untuk menghidupkan kegiatan anak dan remaja di paroki, kegiatan semacam ini dapat diselenggarakan di tingkat paroki juga (antar lingkungan/wilayah). Bagaimana dengan lomba organis anak dan remaja?

Dalam abad teknologi informasi ini, aneka lomba menggunakan aplikasi komputer juga sangat menarik dan sangat mungkin untuk diadakan. Mengapa tidak? Misalnya lomba menggambar dengan komputer atau mengisi website paroki – khususnya rubrik anak dan remaja? (Yang berminat supaya bersuara lewat SMS UMAT: 081326053000).

Peningkatan Kualitas Kehidupan Paroki
Lomba adalah sarana untuk meningkatkan kualitas penampilan. Dengan diadakannya lomba, prestasi anak dan remaja pasti meningkat. Mereka berusaha untuk menang, mereka belajar, mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Alhasil, pasti kemampuan mereka akan meningkat pula. Kalau para pemenang diberi kesempatan dan diarahkan untuk menyajikan kemampuan mereka, tentu hasilnya bermanfaat untuk meningkatkan aneka kehidupan paroki. Dampaknya, umat dan seluruh Gereja akan ikut menikmati hasilnya. Mari kita buka kesempatan bagi anak dan remaja kita. Mari kita buka kesempatan bagi paroki kita. Kesempatannya tidak pernah sama!
(ams. darmawan)

Anjangsana PIR Katedral


Minggu, tanggal 10 Agustus, PIR Katedral beserta para pendamping beranjangsana ke PIR Gereja St. Evangelista Kudus. Pukul 06.00 pagi, kami berkumpul di Gereja Katedral untuk melakukan daftar ulang dan mulai berangkat pukul 07.00 WIB dengan menggunakan satu buah bus.

Setelah dua jam dalam perjalanan, pukul 09.00 WIB kami tiba di tujuan dan disambut hangat oleh para pendamping PIR dari Kudus. Pukul 10.15 WIB acara baru dimulai karena menunggu sebagian remaja dari Kudus yang sedang mengikuti pembekalan Putra Altar. Sangat disayangkan banyak remaja dari Kudus yang tidak dapat hadir karena sebagian dari mereka mengikuti PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu). Namun karena kekompakan pendamping PIR Kudus dan tim panitia Katedral acara tetap dapat berlangsung dengan baik.

Diawali dengan doa pembukaan dari remaja Kudus dan sambutan dari kak Julianto selaku koordinator PIR Kudus. Selanjutnya acara perkenalan yang dikemas dengan lagu dan gerakan bersalam-salaman secara bergantian dilanjutkan permainan “tas ransel” yang dipandu oleh mas Cristian dan mas Seno dari pendamping PIR Katedral. Selanjutnya acara perkenalan, mulai dari pendamping Katedral yang dipandu oleh mbak Winda dan dari Kudus dipandu sendiri oleh kak Julianto. Sesu-dah semua saling mengenal kemudian masuk acara inti yaitu sharing antar remaja dan pendamping baik itu mengenai kegiatan-kegitan yang dilakukan pada waktu pendampingan, bagaimana cara menjaring remaja untuk bisa terlibat dalam PIR, model pendampingan dan suka duka dalam pelayanan di PIR. Setelah sharing acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama diiringi petikan gitar oleh mas Oki dan mas Ferid dari pendamping Katedral sehingga acara semakin meriah dan berkesan.

Acara ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan siang dipimpin oleh Anita, salah satu remaja Katedral. Setelah makan siang, kami berfoto bersama di halaman Gereja St. Yohanes Evangelista Kudus dan saling mengucapkan perpisahan antara remaja dan pendamping PIR Katedral dan Kudus.

Kami mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena acara dapat berjalan dengan baik dan lancar. Tak lupa kami juga mengucapkan te-rimakasih atas dukungan dan bantuan dana dari Romo dan Dewan Paroki Katedral. Serta ucapan terimakasih untuk para pendamping PIR Katedral yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pembentukan panitia kecil Anjangsana, dan terimakasih untuk adik-adik remaja PIR Katedral yang telah turut berpartisipasi dengan penuh semangat dan keceriaan sehingga acara ini bisa berjalan lancar dan meriah. Terimakasih pula untuk remaja dan pendamping PIR Kudus yang telah menerima dan menyambut kami dengan penuh kehangatan dan persaudaraan. Se-moga pada kesempatan yang lain kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali untuk meningkatkan rasa keakraban dan menjalin kebersamaan sesama umat. Berkah Dalem.
(delta winda)

Penyegaran dan Pelatihan Lektor


Dalam rangka membangkitkan semangat dan kualitas lektor mewartakan sabda, tim lektor mingguan Katedral mengadakan penyegaran dan pelatihan lektor pada tanggal 30-31 Agustus di Kerep-Ambarawa. Acara ini mengundang seluruh lektor mulai lektor mingguan, lektor harian hingga lektor Maria Fatima.

Kegiatan dimulai pada hari Sabtu, 30 Agustus pukul 4 sore. Para lektor yang berjumlah 31 orang berangkat dari Katedral dengan menaiki truk polisi menuju Kerep Ambarawa. Perjalanan yang menempuh waktu sekitar 45 menit terasa menyenangkan karena beberapa peserta melakukan kekonyolan yang mengundang perhatian pemakai jalan yang lainnya. Setibanya di Kerep, acara pembuka pun dimulai dengan perkenalan yang dikemas menarik dimana masing-masing peserta tidak memperkenalkan dirinya sendiri tetapi memperkenalkan temannya yang sebelumnya sudah diberi kesempatan untuk berkenalan. Peserta yang dapat memperkenalkan teman-teman barunya dengan baik, unik dan lucu mendapatkan sebuah bingkisan sebagai imbalan.

Setelah ice breaking, sesi pertama dan kedua pun dimulai. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan sekitar lektor yang sebelumnya telah dibuatkan oleh Romo Sugiyana. Hasil diskusi dipresentasikan dan dibahas bersama serta ditanggapi oleh Romo. Di samping itu, disajikan pula materi yang membangkitkan semangat lektor dimana seorang lektor adalah salah satu petugas yang berperan penting dalam liturgi sabda. Melalui lektor yang membacakan kitab suci, Allah hadir menyampaikan Sabda-Nya kepada umat beriman dan sekaligus membuka kasanah harta Alkitab kepada mereka. Materi ditutup dengan animasi yang dapat memotivasi peserta untuk tetap setia dalam melayani Tuhan walaupun halangan, tantangan dan ancaman menghadang.

Menutup kegiatan hari itu, para peserta mengikuti Ekaristi Minggu Biasa dengan lagu Taize yang diringi alunan gitar sehingga suasana terasa hening dan khidmat. Apalagi didukung dengan pendar cahaya lilin yang agak redup sehingga suasana semakin syahdu.

Keesokan harinya, pukul 06.00 diadakan Jalan Salib dengan menggunakan rute Jalan Salib di Gua Maria Kerep Ambarawa. Setelah masing-masing berdoa di depan Gua Maria, peserta diajak untuk sarapan pagi. Selesai makan, beberapa gamespun dilakukan di tempat Perjamuan Kana. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diharapkan satu sama lain dapat saling bekerja sama agar dapat memenangkan games sehingga mendapat hadiah. Salah satunya adalah games mumi dimana salah satu anggota tiap kelompok tubuhnya dibalut dengan tisyu sampai seperti mumi. Games ini berlangsung ramai dan penuh canda tawa karena sang mumi diminta bergoyang dangdut seasyik mungkin tanpa merusak balutan tisyunya.

Pukul 09.00, sesi ketiga berlangsung. Sesi ini bertujuan untuk memberi pengetahuan dan melatih lektor secara teknis untuk dapat membacakan Alkitab dengan baik dan penuh penghayatan serta tanggung jawab. Materi yang sarat akan pengetahuan tentang lektor dibawakan oleh Pak Agus dengan baik sehingga wawasan para peserta dibuka lebih luas lagi. Sesi ini dilanjutkan dengan sesi keempat yaitu praktek secara langsung materi yang sebelumnya sudah diterima. Sayangnya, karena waktu yang singkat, praktek ini tidak sempat dilakukan.

Sebelum seluruh rangkaian acara selesai, peserta diajak kembali untuk menikmati hidangan makan siang. Setelah itu peserta mengikuti acara terakhir yaitu kesan dan pesan yang diwakili dari panitia dan tiap anggota lektor. Hampir seluruh peserta baik dan puas atas berlangsungnya acara ini. Diharapkan acara seperti ini dapat dilakukan tiap tahunnya.

Setelah doa penutup, peserta berfoto di taman sebagai kenang-kenangan dan sesudahnya peserta diijinkan untuk belanja souvenir. Pukul 15.00 peserta bersiap kembali menaiki truk polisi untuk menuju Gereja Katedral.
(tim lektor katedral)

Gua Maria Grabag


Sekerlap warna biru
Nampak indah di atas-Mu
Bukan sulap atas mataku
Namun sujud-sembah atas indah-Mu
Begitu hidup … sungguh, begitu nyata …
Itulah diri-Mu!
Wahai Bunda bercahaya biru.


Puisi yang keluar, saat sekejap melihat gambar Sang Bunda. Ya… syukur pada Tuhan, kami masih sempat melihatnya. Di sebuah daerah bernama Grabag, sebelah utara Kota Secang, saat itu kami berkunjung. Di sanalah sebuah Gua Maria diberkati oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr., tertanggal 23 Juli 2005.

Sekilas Umat
Gua Maria Grabag… mungkin ini kali pertama kami atau Anda mendengarnya. Gua Maria di Grabag, apa ada? Di Grabag ada Gua Maria, mana mungkin? Mungkin itu yang terbersit kali pertama mendapat kabarnya. Namun, bolehlah kami memulai berbagi cerita tentangnya, karena ketakjuban yang tiada tara boleh sejenak kami rasakan di sana.

Yang bisa kami ceritakan tentang umat di Grabag, jumlahnya tidaklah banyak, kurang lebih 25 kepala keluarga. Tidak begitu banyak bukan …, namun cukuplah untuk menjadi sebuah wilayah tersendiri dari Paroki Santa Maria Fatima Magelang. Saat ini, sebagian besar umat di Grabag adalah para pendatang. Kekhasan para pendatang ini menjadi api yang sekiranya memberi nyala bagi jemaat perdana yang mulai agak redup. Ibarat lilin-lilin kecil kini mulai berkumpul, maka kegelapan di sekitar pun mulai sirna.

Kiranya terang lilin-lilin ini tidak menampakkan KEMEWAHAN, melainkan KESEDERHANAAN. Sebab, terangnya mulai dapat dinikmati jika ada dalam kegelapan. Bisalah Anda bayangkan sendiri…, bagaimana terang itu tidaklah menyilaukan, melainkan mengajak rasa iman tiap-tiap umat Allah untuk bernaung dan mencecap ketenteraman dan kesyahduannya. Ini sungguh-sungguh berkat Allah … Adalah Malam Jumat Kliwon tidak lagi membuat bulu kuduk berdiri dan kita pun lari, tapi malah dihampiri untuk bersama-sama dinikmati dalam kelimpahan rahmat Ilahi. Hal ini juga terjadi pada bulan Oktober maupun Mei. Rasanya hanya satu pengikat komunitas iman ini, yakni: Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus, yang jelas tertera di dinding sebagai pengakuan dan pengukuhannya oleh Uskup Agung Semarang pada hari Sabtu Legi.

Pemaknaan…
Menyoal Sabtu Legi, muncul sepercik pencerahan. Rasa Jawa pasti hendak memahami makna hari Sabtu Legi. Namun, rasa Kristiani akan mendasarinya dengan terang ilahi. Muncullah pemaknaan. Sabtu Legi bolehlah dimaknai Sabda Tuhan. Legi dimengerti sebagai manis. Maka, Sabtu Legi tiada lain adalah Sabda Tuhan yang Manis. Ya… Sabda Tuhan memang manis, saat kami sadar bahwa Sabda itu berwujud dalam kehangatan tegur sapa umat setempat di suasana alam yang dingin. Bukan tidak mungkin bahwa kehangatan tersebut merupakan aktualisasi rasa iman yang mendalam, bersumber pada kesederhanaan cinta akan Allah dalam doa bersama Sang Bunda.

Butir demi butir doa dalam rosario bersama Sang Bunda, membawa kita pada pengalaman iman akan salib Kristus. Maka, salib rosario tidak hanya salib kecil, melainkan sungguh-sungguh salib rosario itu berwujud salib besar. Di sanalah kita diajak memahami inti salib Kristus sambil mengumandangkan doa rosario bersama Sang Bunda. Jadi, benarlah fakta. Patung Sang Bunda membawa rosario tak bersalib, namun ia sungguh berdampingan dengan salib Kristus.

Bersua Hyang Putra dan Sang Bunda
Seperti yang terungkap pada awal tutur ini, jumlah umat disini hanya 25 kepala keluarga dan mereka semua adalah pendatang. Jangan bertanya mengapa mereka bisa “terdampar” di daerah ini. Karena itulah rencana Sang Khalik. Mereka yang disatukan oleh iman akan Salib yang menyelamatkan itu kemudian berkumpul. Dari semangat doa itulah mereka berniat membangun sebuah sekolah.

Sekolah yang diberi nama SMP Pendowo Grabag didirikan pada tahun 1982, menjadi saksi kerasulan mereka di tengah dunia. Tetapi sayang sekolah ini sekarang tidak lagi beroperasi. Mengapa? Karena berdiri sebuah gereja di sebelahnya! Prasangkalah yang membuat sekolah ini tidak bisa lagi menjadi terang bagi sesamanya. Sungguh sangat disayangkan… Tanah yang masih luas di sekitar sekolah membuat mereka memberanikan diri mewujudkan rumah doa.

Pendirian Kapel Santo Yusuf akhirnya dimulai. Tentu saja dengan izin dan proses yang lama, seperti biasanya. Pembangunan itu tentunya tidak semudah seperti penuturan kisah ini tentunya. Karena dari penuturan Ibu Ch. Maryanti, saat rumah Allah ini akan dibangun, penolakan, pelemparan batu, dan ancaman pembakaran meneror umat Allah di daerah Grabag. Sisa lemparan masih dapat kita lihat di kaca depan kapel. Tetapi surutkah mereka? TIDAK! Dengan kepasrahan dan doa, mereka serahkan semua kehadirat Gusti Dalem. Mereka betul - betul menyadari inilah salib mereka dan akan mereka tanggung bersama.

Tahun 1991 Kapel Santo Yusuf Stasi Grabag mulai dibangun. Pendirian rumah bagi Sang Putra kini sudah paripurna, tetapi justru itulah awal perjalanan umat Stasi Grabag memasuki babak baru peziarahan iman mereka. Merawat, melestarikan, dan menghidupi kekatolikan mereka agar tetap subur di tengah semak dan duri, itulah salib mereka yang baru. Ya, itulah salib. Bukan beban. Salib harus kita pikul dengan kepasrahan dan kerelaan, serta dengan segala harapan bahwa Tuhan juga memiliki rencana yang indah saat kita dirasa cukup memikul salib kita di dunia. Itu jauh lebih sulit dari sebelumnya, tetapi jangan khawatir Saudaraku, seluruh Gereja umat Allah akan membantumu dengan darasan doa.

Keinginan memperindah rumah Allah itu pun tidak berhenti, selain itu kerinduan pada Sang Bunda juga mengelayuti hati umat Gereja diaspora ini. Dengan bantuan dari berbagai pihak pembangunan Gua Maria Grabag dimulai pada Oktober 2002 dan diresmikan pada 23 Juli 2005 oleh Mgr. Ign. Suharyo, Pr. Memang tanah di sekitar gua ini sangat besar karena menyatu dengan SMP Pendowo Grabag dan Kapel Santo Yusuf, tetapi Gua Maria itu sendiri sangatlah kecil, mungkin hanya berukuran 10 x 10 meter.

Udara yang asri dan sejuk serta tempat yang belum banyak dikunjungi orang inilah yang membuat suasana menjadi khusyuk dan hening. Banyak kisah menarik selanjutnya yang terjadi di sini. Seperti cahaya biru yang muncul saat pengambilan gambar patung Sang Bunda, bisikan Gusti Dalem pada Ibu Ch. Maryanti, dan berbagai hal yang membuat decak kagum dan merinding ketika mendengar kisah sederhana nan menakjubkan itu. Kami tidak akan banyak bertutur di sini, biarlah Anda merasakan suasana hening Gua Maria ini dan mendengar sendiri kisah – kisah dari Ibu Ch. Maryanti.

Undangan…
Apabila Anda berniat berdoa di Gua Maria Grabag mungkin sedikit petunjuk dari kami bisa membantu. Dari arah Semarang ke Jogja, setelah daerah Pringsurat di sebelah kiri jalan ada daerah bernama Grabag. Ikuti jalan tersebut kemudian setelah sampai di pasar Grabag, Anda mengambil arah ke selatan menuju daerah Pakis. Tak kurang 400m dari pasar, di sebelah kiri jalan, Anda akan menemukan lokasi Gua Maria Grabag.
Kiranya, demikianlah sharing yang dapat kami ungkap. Jelas, tidaklah lengkap. Namun, kami berharap, jikalau masih diberikan saat barang sekejap, kami akan mengulang rasa takjub itu dengan penuh nikmat, apalagi jika bisa menginap. Sementara kenangan, biarlah tinggal tetap, untuk kami ceritakan kepada siapa yang ingin mencecap. Agar mereka pun pada suatu saat, entah bisa mampir atau melihat, ikut mendapat berkat, melalui Bunda bercahaya biru… (mmf).

Pertemuan Legio Mariae Gereja Katedral


Legio Mariae Presidium Pelindung Gereja Dari Bahaya, pada hari Minggu, 7 September, mengadakan misa syukur bersama anggota aktif dan auxilier dengan dipimpin oleh Rm. Herman Yoseph Singgih S.S, Pr sebagai Romo Pembimbing Rohani, bertempat di Kapel Maria Fatima, Jl. Banowati Raya 29.

Misa dimulai pukul 10.45 dengan dihadiri +/- 70 orang. Mereka yang hadir tidak hanya para legioner yang masih aktif saja tetapi ada juga anggota legio yang dulu pernah aktif yaitu dari Presidium Bintang Laut, Tahta Kebijaksanan Ratu Para Orang Kudus serta tidak ketinggalan anggota legio yunior Bunda Sakramen Maha Kudus. Selain itu hadir pula Bp. Tri Wahyudi selaku penasehat bimbel Randusari beserta para pendamping bimbel.

Dalam homilinya, Rm. Herman mengatakan bahwa dengan diadakannya misa syukur ini, kita sebagai Legioner semakin diingatkan begaimana menjadi prajurit Bunda Maria yang selalu setia, selalu memperhatikan kaum kecil, lemah, miskin dan terlantar, mendoakan orang-orang yang sedang dalam penderitaan, kunjungan kepada orang-orang sakit, dll. Dalam Legio kita juga diharapkan dapat menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, yang selalu melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya tanpa mengeluh. Dengan menjadi prajurit Bunda Maria, kita semakin diajak untuk sampai kepada Yesus.

Seusai misa syukur pukul 12.15 diadakan perjamuan kasih dan ramah tamah. Pada kesempatan ini semua yang hadir tampak antusias, ceria dan bahagia, apalagi ditambah kekhasan Sdr. Ignatius Bondan dalam membawakan acara. Semoga acara ini semakin mengakrabkan anggota baik yang aktif maupun auxilier.

Susunan panitia pada acara misa syukur ini adalah sebagai berikut:
Penanggung jawab : Romo Herman Yoseph S.S, Pr
Koordinator : Maria Plasidia Lestari
Sekretaris : Aloysius Afri Dian Cahyadi
Bendahara : Catherina Firtiyani
Seksi-seksi
• Konsumsi : Rosalia Diah
• Liturgi : Maria Melani
• Dokumentasi : Ignatius Bondan
• Acara : Cicilia Lusiana

Gembira & Bernyanyilah


Itulah tema yang dipakai dalam Lomba Paduan Suara Anak dan Remaja Se-Kevikepan Semarang yang dilaksanakan pada tanggal 21 September di Gereja Katedral. Tema ini ingin mengajak peserta lomba dan penonton untuk bergembira bersama dengan bernyanyi/melantunkan pujian bagi kemuliaan Tuhan.

Lomba dibagi dalam dua kategori yaitu anak dan remaja. Kategori Anak diikuti oleh 8 peserta yaitu: George Choir dari Paroki Materdei, Titi Nada C dari Paroki Katedral, Bosco Voice dari Paroki Karangpanas, St. Yoh. Evangelista dari Paroki Kudus, PIA St. Theresia Bongsari dari Paroki Bongsari, Kuncup Ignatius dari Stasi Krapyak Paroki Bongsari, PIA Sampangan dari wilayah Sampangan Paroki Katedral dan PSMF Junior dari Paroki Banyumanik. Untuk Kategori Remaja diikuti oleh 6 peserta yaitu: St. Yoh. Evangelista dari Paroki Kudus, Kuncup Ignatius dari Stasi Krapyak Paroki Bongsari, PIR St. Theresia Bongsari dari Paroki Bongsari, Vox Liberorum dari Paroki Purwodadi, Gracioso dari Paroki Katedral dan PSMF Junior dari Paroki Banyumanik.

Tepat pukul 11.10 lomba dimulai. Diawali dari peserta Kategori Anak dan kemudian peserta Kategori Remaja. Masing-masing peserta tampak bernyanyi dengan sungguh-sungguh. Menampilkan segala kemampuan olah vokal dan olah gerak untuk memberikan yang terbaik bagi para penonton dan dewan juri.

Pukul 14.30 tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para peserta yaitu pengumuman pemenang lomba. Sebelum mengumumkan pemenang untuk masing-masing kategori, Dewan Juri yang terdiri dari Bp. Agastya Rama Listya, Bp. Wahyu Purnomo, dan Ibu Dra. Margarisje Lucij Elisabeth Makikui, M.Hum, berkenan memberikan kritik dan saran untuk seluruh peserta. Dan yang menjadi pemenang untuk lomba kali ini adalah: Kategori Anak; Bosco Voice sebagai Juara I, Kuncup Ignatius sebagai Juara II, PSMF Junior Juara III dan George Choir sebagai Juara Harapan. Untuk Kategori Remaja: Juara I Kuncup Ignatius, Juara II PIR St. Theresia Bongsari, Juara III St. Yoh. Evangelista, dan Juara Harapan PSMF Junior.

Proficiat kepada para pemenang. Proficiat kepada seluruh panitia. Semoga lomba ini dapat dilaksanakan lagi di tahun mendatang dengan jumlah peserta dan penonton yang lebih banyak. Marilah kita terus bergembira dan melambungkan pujian bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

TRIDUUM HARI I KRISMA PAROKI RANDUSARI TAHUN 2008

PENGANTAR
Krisma kita kenal dengan Sakramen penguatan dan pencurahan Roh Kudus dari Allah “Maka penuhlah mereka dengan Roh kudus” (Kis. 2:4a), dimana orang yang menerima Sakramen Krisma dianggap Gereja sudah dewasa dalam iman dan ditugaskan menjadi saksi Gereja oleh kekuatan Roh Kudus dan mampu beriman sejati dengan “menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja” (Yak. 1:2). Triduum merupakan tiga hari berturut-turut, dalam Gereja dijadikan masa persiapan untuk menyambut hal penting di dalamnya. Hal ini yang dirasa oleh Gereja kita akan pentingnya bagaimana mengemas Triduum Krisma agar mampu menyiapkan Kris-mawan yang mampu mewujudkan kerajaan Allah dengan jalan bersahabat dengan Allah, meninggikan martabat manusia dan juga melestarikan ciptaan.

PERSIAPAN TRIDUUM
Dengan melihat data calon krismawan yang sebagian besar kaum muda, Gereja memberi tempat dan menaruh harapan yang berarti pada kaum muda untuk bisa terlibat. Gereja mempunyai kewajiban untuk mendampingi dan mendidik orang muda supaya mampu mengarungi masanya dengan baik.

Gereja mengundang kaum muda-nya untuk merangkul calon krismawan dalam mempersiapkan mereka untuk menerimakan sakramen Krisma. Semangat untuk bisa memberikan yang terbaik bagi Gereja dan ingin memulai tahun kaum muda dengan gebrakan yang berbeda.

Tidak hanya calon krismawan yang merasa mendapatkan pencurahan Roh saja, kaum muda pun merasa beriman lebih walaupun tidak se-spektakuler para rasul (Kis 2:4b) tetapi cukup menggerakan kaum muda untuk mendesain kegiatan Triduum Krisma yang berbeda dan berbau anak muda yang bisa memberikan kesan kepada calon krismawan dan membantu krismawan dalam merasakan “Res tantum” baik dari “ex Opere Operato” Karya Allah maupun “ Ex Opere Operantis ” dari niat mereka dan peranan Gereja.

Besarnya suatu acara dan keawaman kaum muda, serta waktu yang cukup singkat bukan menjadi suatu halangan buat kaum muda untuk bergerak malahan menjadi sebuah tantangan mereka untuk melangkah. Maka disusunlah pembagian kerja untuk mempermudah acara nantinya sebagai berikut :
Penanggung jawab : Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr. (romo moderator)
MC : Aries (Untuk PIR), Untung (Kaum Muda)
Fasilitator PIR : 1. Mona 7. Nana
2. Dela 8. Angga
3. Susi 9. Ardine
4. Indri 10. Tika
5. Sari 11. Retno
6. Monica 12. Hasta
Fasilitator Mudika : 1. Adit 5. Maurin
2. Sigit 6. Sapta
3. Dani
4. Hindro
Perlengkapan : Sapta
Pengisi sesi : Pak Mulyono dan Mas Yusuf
Dan tanpa mengesampingkan dukungan dari beberapa katekis dan pa-guyuban-paguyuban yang berada di Gereja kita serta Romo Herman sebagai mod-erator acara triduum hari pertama. Baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh (Flp. 3:16) dan semoga Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp. 1: 6).

PELAKSANAAN TRIDUUM KRISMA HARI I
Triduum hari I dilaksanakan pada tanggal 24 September 2008 dimulai pada pukul 17.00, dibuka oleh Pak Mulyono sebagai wakil katekis, krismawan dibagi 3 kelompok besar: 1. Krismawan yang telah menikah.
2. Krismawan yang jenjang pendidikan SMA, kuliah dan belum berkeluarga.
3. Krismawan yang jenjang pendidikan SMP.
Krismawan yang telah menikah didampingi oleh Pak Theo, sedang kelompok krismawan didampingi kaum muda walaupun dipisah tempat akan tetapi format acara serupa. Krismawan yang jenjang pendidikan SMP ditempatkan di Sukosari dan krismawan lain ditempatkan di Pastoran Atas.

Triduum dibuka dengan game-game perkenalan agar krismawan mengenal krismawan lainnya, kemudian pengenalan password acara yaitu “bersahabat dengan Allah, meninggikan martabat manusia, dan juga melestarikan ciptaan-Nya” dalam bentuk lagu. Setelah itu krismawan dibagi menjadi kelompok yang lebih kecil sambil disegarkan akan sakramen krisma yang dibawakan oleh Pak Mulyono dan mas Yusuf, dalam penjelasannya, sakramen krisma merupakan sakramen perutusan agar menjadi “orang katolik 100% dan 100% orang Indonesia” sehingga terlibat aktif baik di masyarakat dan gereja dengan pola penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman dengan harapan seperti pasword triduum ini. Kemudian krismawan diajak melihat tampilan dalam bentuk animasi (untuk jenjang pendidikan SMP) dan kondisi Indonesia baru-baru ini (untuk jenjang SMA, kuliah dan belum menikah) sambil diskusi merefleksikan antara tampilan dengan password acara ini, baru krismawan diajak membuat harapan-harapan dari hasil diskusi tadi dan membuat janji dan langkah konkret yang akan dilaksanakan setelah menerima sakramen krisma untuk diri sendiri, dan terakhir ditutup berkat oleh romo moderator pukul 20.30 wib.

Demikian pelaksanaan Triduum Krisma yang telah kita laksanakan semoga mampu menjadikan krismawan merasakan Curahan Roh saat penerimaan Sakramen nanti dan dewasa akan iman serta konsekuen pada janji yang telah dibuat. Kami segenap panitia triduum Krisma mengucapkan Proficiat dan menanti anda pada keterlibatannya di Gereja. Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada segenap pihak yang telah membantu pelaksanaan triduum Krisma ini semoga kerja sama kita berlanjut pada kegiatan lain. Semoga Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp. 1: 6).(b85wl)

Penerimaan Sakramen Krisma


Minggu, 28 September, sebanyak 165 orang menerima Sakramen Krisma di Gereja Katedral. Penerimaan diberikan secara langsung oleh Bapak Uskup Mgr. I. Suharyo

Dalam homilinya, Bapak Uskup pertama-tama mengucapkan selamat kepada para penerima Sakramen Krisma. Lebih lanjut Bapak Uskup menegaskan bahwa seseorang menerima Sakramen Krisma bukan karena usianya sudah sampai atau gilirannya sudah tiba tetapi karena ia mengambil keputusan. Keputusan pribadi, keputusan iman untuk menjadi warga gereja yang penuh, terlibat dan bertanggung jawab. Menjadi pengikut-pengikut Kristus yang semakin hari semakin setia. Menjadi pribadi yang semakin serupa dan bersikap seperti Kristus. Hal yang pertama harus dilakukan adalah dengan lebih mengenal dan tahu lebih banyak siapakah Kristus itu. Kita perlu lebih mengembangkan, memperdalam dan memperluas pengetahuan iman kita. Beriman tidak sama dengan tahu mengenai macam-macam hal. Beriman adalah bagaimana kita semakin hari semakin serupa dengan Kristus dan semakin dapat bersikap seperti Kristus. Untuk dapat bersikap seperti Dia, kita hendaknya rela membagi kehidupan dengan orang lain seperti teladan Kristus yang telah mengorbankan diri untuk menebus dosa-dosa kita.

Proficiat untuk para penerima Sakramen Krisma. Semoga semakin dewasa dalam iman, hidup menggereja dan dalam hidup bermasyarakat. Tuhan memberkati.

Perayaan Ekaristi Syukur 80 th Gereja Katedral dan Pesta Umat


Perayaan Ekaristi Syukur 80 th Gereja Katedral yang dilaksanakan pada hari Minggu, 12 Oktober pk. 08.00 terlihat semarak dan meriah. Perayaan Ekaristi dipimpin secara konselebran oleh Vikjen KAS, Romo Riana Prapdi dan seluruh romo komunitas pastoran yaitu Romo Sukendar, Romo Sugiyana, Romo Herman, Romo Kristiyanto dan Romo Edy.

Perayaan Ekaristi diawali dengan visualisasi sejarah paroki yang dibawakan secara ‘apik’ oleh adik-adik PIA Katedral. Mereka memperagakan perjalanan paroki ini hingga usia yang ke-80. Ada yang berperan sebagai romo, rakyat jelata, pemborong bangunan, arsitek, tentara Jepang, petugas P3K, penari jawa, penari betawi, penari Jepang dan masih banyak lagi. Meski berlangsung hampir satu jam, umat sangat antusias menyaksikan visualisasi ini terbukti dengan tepuk tangan yang sering kali terdengar. Terlebih ketika ada beberapa adegan lucu yang secara tidak sengaja terjadi, misal: ketika konde salah satu penari terjatuh atau tentara Jepang yang jatuh ‘beneran’ dari atas panggung.

Sebelum berkat penutup diadakan acara potong tumpeng oleh Romo Riana Prapdi yang diberikan kepada wakil Dewan Paroki, Bp. GM. Siranto kemudian Romo Sukendar diberikan kepada Ketua Panitia Ulang Tahun Gereja, Sdr. Kokok dan Romo Sugiyana yang diberikan kepada wakil umat, Bp. Djemono.

Mengawali pesta umat diadakan acara pelepasan 80 burung pipit oleh para romo. Hal ini untuk menandakan usia 80 th yang kini telah ditapaki oleh gereja ini. Setelah itu umat segera menyerbu ‘nasi ayam’ yang sudah disediakan. Disamping itu juga telah dipersiapkan beragam acara oleh panitia untuk mengiringi pesta umat yaitu: solo organ, tari Panji Semirang, Poco-Poco dari ibu-ibu wilayah, drama dari Kaum Muda Sampangan dan acara bagi-bagi doorprize.

Selamat ulang tahun Gereja Katedral. Selamat menapaki semangat baru untuk semakin berkembang dari, oleh dan untuk seluruh umat. Proficiat kepada seluruh panitia. Semoga usaha yang telah dan sudah kita laksanakan ini sungguh mendewasakan kita dalam iman dan perbuatan. Amin.

Perkenalan Pribadi FX. Sukendar Wignyosumarta


Orangtua memberi nama kepadaku Sukendar pada tanggal 8 Agustus 1964 hari Sabtu Pahing, ketika aku dilahirkan di kampung Sengkan, Condong Catur, Depok, Yogyakarta. Satu bulan berikutnya, bapak simbok saya (Antonius Kayat Wignyosumarta dan Anastasia Kasinah) mengantar saya ke Gereja Keluarga Kudus Banteng untuk dipermandikan, dengan nama permandian Fransiscus Xaverius. Aku lahir dari sepuluh bersaudara sebagai anak ke sembilan. Sebuah keluarga besar yang dihidupi dari jerih lelah sebagai petani dan pamong desa di Kalurahan Condongcatur, sekaligus bakul tempe yang oleh simbok, tempe itu dijual di pasar pada pagi hari sedangkan sore hari dibawa ke asrama tentara Yonif 403 Kentungan.
Simbok telah meninggal dunia pada tahun 1981 ketika aku baru menempuh pendidikan awal di seminari Mertoyudan. Sedangkan Bapak meninggal dunia pada tahun 1999 ketika aku menjalankan tugas perutusan sebagai guru dan staf seminari Mertoyudan.

Setelah ditahbiskan menjadi imam dari tangan Mgr. Yulius Darmoatmojo SJ pada tanggal 12 Agustus 1992 bersama delapan iman lainnya di kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, aku pertama kali mendapat tugas pelayanan sebagai pastor pembantu di Paroki St. Maria Assumpta Klaten. Tahun madu selama tiga tahun bagiku menjadi masa pembentukan bagi dasar-dasar pelayanan sebagai iman dengan pendampingan dan teladan dari Pastor Kepalaku waktu itu, Rm. Raymundus Mardi Suwignyo. Bagaimana cara melayani tamu dan memberi perhatian secara pribadi ketika konsultasi, bagaimana menciptakan kehangatan persaudaraan imamat diantara rekan sepastoran juga dengan imam lainnya, serta kesempatan terencana untuk mengadakan Kunjungan Kekeluargaan Dewan Paroki kepada umat di lingkungan-lingkungan, merupakan buah pembelajaran dan jurus dasar yang sangat berguna bagi imamatku kemudian.

Delapan tahun berikutnya (1995 hingga 2003) aku berkesempatan menemani tunas-tunas muda panggilan imamat di Seminari Mertoyudan. Menemani para seminaris untuk belajar hidup di asrama dengan segala tugas pribadi yang harus dikerjakan, mulai dari membersihkan WC/KM, nyapu dan nge-pel lantai, cuci piring dan pakaian serta membiasakan diri untuk belajar dengan tekun setiap hari di kelas, hingga pembiasaan rohani untuk refleksi, bacaan rohani dan misa harian, adalah menu utama santapan hidup selama menjadi pamong di seminari. Pengalaman yang sangat menantang karena harus memberi keteladanan sekaligus membiarkan kreatifitas dan keunggulan pribadi seminaris bisa berkembang tanpa dipasung oleh tata hidup bersama yang ketat. Kehadiran seminaris dari pelbagai latar belakang keluarga dan budaya kehidupan makin memperkaya hidup imamat saya, juga kesempatan kerjasama dengan staf Romo dan Frater serta guru-guru seniorku dulu.

Lima tahun terakhir sebelum aku dipercaya untuk tugas di Katedral Semarang, aku mengemban tugas menemani umat Paroki Sragen, paroki di kota kabupaten yang berbatasan dengan Ngawi – Jawa Timur. Kota kabupaten dengan semangat pelayanan “One Stop Service” serta slogan pemacu semangat warga dengan SRAGEN ASRI. Sebagai pastor Paroki, aku juga berkesempatan menjadi Pengurus Harian DKP (Dewan Karya Pastoral) sehingga banyak hal yang menjadi issue maupun semangat Keuskupan Agung Semarang, dengan cepat bisa aku tularkan kepada pengurus Dewan Paroki dan umat. Wacana-wacana yang dikembangkan oleh Keuskupan bisa ditanggapi lebih dini hingga memberi dinamika yang rancag bagi pengurus Dewan maupun gerak paroki. Sikap tanggap dan akronim Sragen (Sreg sak nggen-nggen) serta kerelaan semakin banyak orang ambil bagian dalam dinamika hidup berparoki, sangat terasa dan memberikan buah-buah pelayanan yang nyata. Pelbagai paguyuban muncul, suasana paroki lebih hidup dengan kerelaan mereka berkumpul dan berjejaring satu sama lain. Kiprah anak-anak, remaja hingga kaum muda serta orangtua sangat terasa, jauh sebelum gerakan berbagi lima roti dua ikan dicanangkan pada tahun 2008 ketika Kongres Ekaristi Keuskupan pertama digelar. Dinamika sedemikian laju itu hanya dimungkinkan oleh keterlibatan sebanyak mungkin orang dan kerelaan untuk mewujudkan iman dalam cerahan visi: Setia menjadi murid-murid Yesus Kristus dalam naungan perlindungan Bunda Maria Fatima.

Sekarang, aku mengemban tugas baru sebagai Pastor Paroki Randusari dan Vikep Kevikepan Semarang. Sebuah paroki besar di pusat kota, dengan label khusus Katedral (tempat Uskup menggembalakan umat dan menjadi tanda pemersatu bagi seluruh keuskupan). Dengan kematangan umat, para pengurus lingkungan-wilayah dan Dewan Paroki (usia paroki 80 tahun) serta banyaknya umat yang memilih merayakan ekaristi di paroki dekat Tugu Muda yang memang strategis (menyimpan ikatan kenangan serbaneka), saya merasakan kekuatan dan peneguhan untuk menjalankan tugas di tempat baru ini. Paroki dengan Noblise Oblige, kedudukan membawa tanggungjawab; semoga terus bergeliat sebagai tanda kehidupan yang dinamis, serta dilibati oleh sebanyak mungkin orang yang memang berkehendak baik.

Sub Tutela Matris, di bawah perlindungan Bunda Maria Ratu Rosario Suci, kita melayani Tuhan, seluruh umat serta ciptaan dengan sikap rendah hati dan kesungguhan. Limpah rahmat Tuhan yang mengalir dan kita rasakan di pusat kota Semarang ini, harus semakin menjadi wujud hadirnya Kerajaan Allah yang menyelamatkan, yang ditandakan oleh Gereja Katedral Randusari ini. Inilah sukacita sekaligus cara bertindak kita sebagai umat beriman Katolik

…supaya menjadi nyata…


Supaya menjadi nyata dan supaya Anda tidak bertanya-tanya, ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya: Materius Kristiyanto. Saya terlahir sebagai anak kedua dari pasangan guru SD Kanisius, YW. Purwaharjono dan C. Waginem, kini keduanya telah pensiun, di sebuah desa, kurang lebih 20 kilometer arah Barat Daya Yogyakarta. Tepatnya: Ngaglik, Sukoreno, Sentolo, Kulonprogo. Rumah kami termasuk dalam wilayah Gereja paroki Wates Kulonprogo.

Masa kecil saya habiskan untuk sekolah dan membantu orang tua (mencari makanan atau menggembalakan sapi, bekerja di ladang atau di sawah). Tahun 1984 saya lulus SDK Bonoharjo, tahun 1987 lulus SMPN 1 Wates, tahun 1990 lulus SMAN 1 Wates, kemudian masuk KPA Seminari Menengah Mertoyudan, TOR Jangli, Seminari Tinggi Kentungan dan tahun 1999 diperkenankan menerima tahbisan imam.

Panggilan imam tumbuh dalam keseharian, kesederhanaan dan kenormalan. Tidak ada yang istimewa, semua serba biasa mengalir sebagaimana dikehendaki-Nya. Saya belajar banyak dari Bunda Maria yang melayani Yesus dalam kesehariannya. Bunda Maria bukan orang kota (Yerusalem) tetapi orang desa (Nazareth). Dia tidak melakukan hal-hal yang spektakuler tetapi yang sederhana dan sehari-hari dengan hati dan dengan cinta yang berkobar pada Yesus.

Begitulah, perutusan saya sesudah tahbisan adalah studi lanjut, tahun 2002 lulus Pascasarjana, kemudian tahun 2002-2004 berkarya di paroki Kidul Loji dan tahun 2004 diutus untuk belajar kembali ke Roma. Bapak Uskup memberi tugas untuk memperdalam Spitirualitas di Pontificio Instituto di SpiritualitĂ  Teresianum. Bulan Juni 2008 saya menyelesaikan tugas belajar itu dan kembali ke Indonesia.

…supaya menjadi nyata bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diriku, itu motto tahbisan yang selalu memberi kekuatan saat saya menjalankan tugas-tugas perutusan. Dari satu sisi motto itu menyiratkan kerapuhan manusia, namun dari sisi lain menyatakan rahmat dan kebesaran Allah yang tak pernah habis. Dari sana saya selalu disadarkan bahwa pelayanan dan perutusan yang saya jalankan adalah rahmat dan demi rahmat.

Bila hidup diibaratkan sebagai sebuah perjalanan, saat saya berhenti dan menoleh ke belakang, “kekuatan yang berlimpah-limpah yang berasal dari Allah” itu menjadi sangat kentara. 4 tahun di negeri orang, tanpa bisa pulang kampung, bukanlah waktu singkat. Saya kadang heran sendiri, betapa Allah memelihara, melindungi dan menopang saya melalui orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Sekarang saya mendapat tugas perutusan baru untuk melayani umat paroki Katedral Semarang. Harapan saya tetap: supaya menjadi nyata - dalam pelayanan saya dan dalam Gereja Katedral - kekuatan berlimpah-limpah yang berasal dari Allah sehingga kemuliaan dan keselamatan-Nya semakin dirasakan oleh banyak orang.