Jumat, November 28, 2008

Perkenalan Pribadi FX. Sukendar Wignyosumarta


Orangtua memberi nama kepadaku Sukendar pada tanggal 8 Agustus 1964 hari Sabtu Pahing, ketika aku dilahirkan di kampung Sengkan, Condong Catur, Depok, Yogyakarta. Satu bulan berikutnya, bapak simbok saya (Antonius Kayat Wignyosumarta dan Anastasia Kasinah) mengantar saya ke Gereja Keluarga Kudus Banteng untuk dipermandikan, dengan nama permandian Fransiscus Xaverius. Aku lahir dari sepuluh bersaudara sebagai anak ke sembilan. Sebuah keluarga besar yang dihidupi dari jerih lelah sebagai petani dan pamong desa di Kalurahan Condongcatur, sekaligus bakul tempe yang oleh simbok, tempe itu dijual di pasar pada pagi hari sedangkan sore hari dibawa ke asrama tentara Yonif 403 Kentungan.
Simbok telah meninggal dunia pada tahun 1981 ketika aku baru menempuh pendidikan awal di seminari Mertoyudan. Sedangkan Bapak meninggal dunia pada tahun 1999 ketika aku menjalankan tugas perutusan sebagai guru dan staf seminari Mertoyudan.

Setelah ditahbiskan menjadi imam dari tangan Mgr. Yulius Darmoatmojo SJ pada tanggal 12 Agustus 1992 bersama delapan iman lainnya di kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, aku pertama kali mendapat tugas pelayanan sebagai pastor pembantu di Paroki St. Maria Assumpta Klaten. Tahun madu selama tiga tahun bagiku menjadi masa pembentukan bagi dasar-dasar pelayanan sebagai iman dengan pendampingan dan teladan dari Pastor Kepalaku waktu itu, Rm. Raymundus Mardi Suwignyo. Bagaimana cara melayani tamu dan memberi perhatian secara pribadi ketika konsultasi, bagaimana menciptakan kehangatan persaudaraan imamat diantara rekan sepastoran juga dengan imam lainnya, serta kesempatan terencana untuk mengadakan Kunjungan Kekeluargaan Dewan Paroki kepada umat di lingkungan-lingkungan, merupakan buah pembelajaran dan jurus dasar yang sangat berguna bagi imamatku kemudian.

Delapan tahun berikutnya (1995 hingga 2003) aku berkesempatan menemani tunas-tunas muda panggilan imamat di Seminari Mertoyudan. Menemani para seminaris untuk belajar hidup di asrama dengan segala tugas pribadi yang harus dikerjakan, mulai dari membersihkan WC/KM, nyapu dan nge-pel lantai, cuci piring dan pakaian serta membiasakan diri untuk belajar dengan tekun setiap hari di kelas, hingga pembiasaan rohani untuk refleksi, bacaan rohani dan misa harian, adalah menu utama santapan hidup selama menjadi pamong di seminari. Pengalaman yang sangat menantang karena harus memberi keteladanan sekaligus membiarkan kreatifitas dan keunggulan pribadi seminaris bisa berkembang tanpa dipasung oleh tata hidup bersama yang ketat. Kehadiran seminaris dari pelbagai latar belakang keluarga dan budaya kehidupan makin memperkaya hidup imamat saya, juga kesempatan kerjasama dengan staf Romo dan Frater serta guru-guru seniorku dulu.

Lima tahun terakhir sebelum aku dipercaya untuk tugas di Katedral Semarang, aku mengemban tugas menemani umat Paroki Sragen, paroki di kota kabupaten yang berbatasan dengan Ngawi – Jawa Timur. Kota kabupaten dengan semangat pelayanan “One Stop Service” serta slogan pemacu semangat warga dengan SRAGEN ASRI. Sebagai pastor Paroki, aku juga berkesempatan menjadi Pengurus Harian DKP (Dewan Karya Pastoral) sehingga banyak hal yang menjadi issue maupun semangat Keuskupan Agung Semarang, dengan cepat bisa aku tularkan kepada pengurus Dewan Paroki dan umat. Wacana-wacana yang dikembangkan oleh Keuskupan bisa ditanggapi lebih dini hingga memberi dinamika yang rancag bagi pengurus Dewan maupun gerak paroki. Sikap tanggap dan akronim Sragen (Sreg sak nggen-nggen) serta kerelaan semakin banyak orang ambil bagian dalam dinamika hidup berparoki, sangat terasa dan memberikan buah-buah pelayanan yang nyata. Pelbagai paguyuban muncul, suasana paroki lebih hidup dengan kerelaan mereka berkumpul dan berjejaring satu sama lain. Kiprah anak-anak, remaja hingga kaum muda serta orangtua sangat terasa, jauh sebelum gerakan berbagi lima roti dua ikan dicanangkan pada tahun 2008 ketika Kongres Ekaristi Keuskupan pertama digelar. Dinamika sedemikian laju itu hanya dimungkinkan oleh keterlibatan sebanyak mungkin orang dan kerelaan untuk mewujudkan iman dalam cerahan visi: Setia menjadi murid-murid Yesus Kristus dalam naungan perlindungan Bunda Maria Fatima.

Sekarang, aku mengemban tugas baru sebagai Pastor Paroki Randusari dan Vikep Kevikepan Semarang. Sebuah paroki besar di pusat kota, dengan label khusus Katedral (tempat Uskup menggembalakan umat dan menjadi tanda pemersatu bagi seluruh keuskupan). Dengan kematangan umat, para pengurus lingkungan-wilayah dan Dewan Paroki (usia paroki 80 tahun) serta banyaknya umat yang memilih merayakan ekaristi di paroki dekat Tugu Muda yang memang strategis (menyimpan ikatan kenangan serbaneka), saya merasakan kekuatan dan peneguhan untuk menjalankan tugas di tempat baru ini. Paroki dengan Noblise Oblige, kedudukan membawa tanggungjawab; semoga terus bergeliat sebagai tanda kehidupan yang dinamis, serta dilibati oleh sebanyak mungkin orang yang memang berkehendak baik.

Sub Tutela Matris, di bawah perlindungan Bunda Maria Ratu Rosario Suci, kita melayani Tuhan, seluruh umat serta ciptaan dengan sikap rendah hati dan kesungguhan. Limpah rahmat Tuhan yang mengalir dan kita rasakan di pusat kota Semarang ini, harus semakin menjadi wujud hadirnya Kerajaan Allah yang menyelamatkan, yang ditandakan oleh Gereja Katedral Randusari ini. Inilah sukacita sekaligus cara bertindak kita sebagai umat beriman Katolik

Tidak ada komentar: