Jumat, Desember 19, 2008

Liturgi Sabda

Gereja mendapatkan santapan rohani dari dua meja yaitu dari meja Sabda, Gereja semakin diasah dan dari meja Ekaristi, Gereja semakin disucikan. Dalam Sabda Allah, perjanjian Ilahi diwartakan, tetapi dalam ekaristi perjanjian baru dan kekal dibaharui. Yang satu mengumandangkan sejarah keselamatan dalam bunyi kata-kata; yang satunya menampilkan sejarah keselamatan yang sama dengan lambang-lambang sakramental dalam liturgi.

Perayaan ekaristi, dimana Sabda didengarkan dan Ekaristi dipersembahkan serta disantap, merupakan satu tindak ibadat kudus; dalam ibadat itu sekaligus di-hunjukkan kurban pujian kepada Allah dan dilaksanakan penebusan manusia dengan sepenuhnya.

Dengan demikian perayaan liturgi menggunakan Kitab Suci selain karena antara Sabda dan Ekaristi merupakan satu tindak ibadat kudus juga karena rasa tanggung jawab harus mewartakan Injil dan menuntun para beriman kepada seluruh kebenaran.

Bacaan-bacaan Kitab Suci dan nyanyian-nyanyian tanggapan merupakan ba-gian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat dan doa umat memperda-lam liturgi sabda dan menutupnya (Ordo Lectionum Missae).

Dalam bacaan (yang diuraikan dalam homili), Tuhan sendirilah yang bersabda kepada umatNya. Di sini Tuhan menyingkap misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan santapan rohani. Dengan perantaraan SabdaNya, Kristus sendiri hadir di tengah-tengah umat beriman.

Sabda Tuhan itu diresapi oleh umat dalam nyanyian dan diimani dalam syaha-dat. Setelah dikuatkan oleh Sabda, umat memanjatkan permohonan-permohonan dalam doa umat untuk kepentingan Gereja dan keselamatan seluruh dunia.

1. BACAAN-BACAAN KITAB SUCI
Bacaan Kitab Suci tidak boleh dihilangkan dan dikurangi, apalagi diganti den-gan bacaan-bacaan lain yang bukan dari Kitab Suci. Begitu juga nyanyian-nyanyian yang diambil dari Kitab Suci. Mengapa? Sebab lewat Sabda Allah yang diwariskan secara tertulis itulah “Allah masih terus berbicara kepada umatNya”. (Sacrosanctum Concilium 33).

Selama satu tahun liturgi dan khususnya selama masa Prapaskah, Paskah dan Adven; bacaan-bacaan dipilih dan diatur dengan tujuan agar para beriman Kristen secara sistematis dapat mengenal iman yang mereka akui serta sejarah keselamatan dengan lebih mendalam.

Bacaan Kitab Suci diatur dalam Tata Bacaan Misa Ritus Romawi. Aturan yang satu ini dimaksudkan agar semua orang beriman, khususnya mereka yang banyak sebab tidak selalu ikut dalam jemaat yang sama dapat mendengarkan di mana-mana, bacaan-bacaan yang sama pada hari dan masa liturgi tertentu dan dapat merenungkannya pada situasi yang konkrit.

Azas-azas penyusunan tata bacaan misa

a.Pemilihan kutipan
Alur bacaan dalam “Masa Biasa” diatur sebagai berikut: Kutipan-kutipan yang dianggap penting ditampilkan pada Hari Minggu dan Hari Raya sedangkan ku-tipan-kutipan pendukungnya ditampilkan pada tata bacaan Harian. Untuk tata bacaan perayaan orang kudus diatur dengan ketentuan khusus.

Tata bacaan Hari Minggu dan Hari Raya dijabarkan dalam tiga tahun, yaitu ta-hun A untuk Injil Mateus, tahun B untuk Injil Markus dan tahun C untuk Injil Lu-kas. Sedangkan Injil Yohanes dipakai untuk menambah Injil Markus pada tahun B yang isinya sedikit dan untuk Hari Raya. Tata bacaan Harian dijabarkan dalam dua tahun yaitu tahun I dan tahun II.

b.Pengaturan Bacaan pada Hari Minggu dan Hari Raya
Ciri-cirinya:
1.Setiap Perayaan Ekaristi mempunyai tiga bacaan: Perjanjian Lama, Perjan-jian Baru dan Injil. Pengaturan ini dimaksudkan supaya tampak adanya ke-terpaduan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan sejarah ke-selamatan, yang berpusat pada Kristus dan kenangan akan misteri PaskahNya.

2.Kutipan yang sama dibacakan sekali dalam tiga tahun.

3.Tema bacaan diatur menurut asas hubungan tematis yaitu bacaan Perjanjian Lama terutama dipilih atas dasar keselarasannya dengan Perjanjian Baru, khususnya Injil. Bentuk hubungan lain dapat dijumpai dalam Masa Adven, Masa Prapaskah, Masa Paskah; yakni masa yang mempunyai bobot dan tema yang khas.

4.Lain halnya hari-hari Minggu Biasa, bacaan Perjanjian Baru (selain Injil) dengan bacaan Injil diatur menurut susunan semi kontinyu sedangkan ba-caan Perjanjian Lama secara tematis berkaitan dengan Injil.

c.Pengaturan bacaan pada hari-hari biasa
Aturannya adalah sebagai berikut:
1.Ada dua bacaan yaitu dari Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru selain Injil (dalam masa Paskah dari Kisah Para Rasul) dan Injil.

2.Untuk Masa Prapaskah, Masa Paskah, Masa Adven dan Masa Natal; berlaku lingkaran satu tahun dengan memperhatikan sifat khas masa tersebut. Bacaan-bacaannya setiap tahun sama.

3.Bacaan pertama berlaku lingkaran dua tahun. Bacaan Injil berlaku lingkaran satu tahun.

d.Kriteria untuk memilih dan mengatur bacaan
1.Pengkhususan buku sesuai masa liturgi
Kisah Para Rasul – selama masa Paskah
Injil Yohanes – selama pekan-pekan terakhir masa Prapaskah dan masa Paskah
Kitab Yesaya bagian pertama – selama masa Adven
Kitab Yesaya bagian lainnya – selama masa Natal
Surat 1Yohanes – selama masa Natal

2.Panjang kutipan
Bila kutipan berbentuk cerita boleh agak panjang, sebaliknya ajaran yang mendalam tidak boleh berkepanjangan. Untuk sejumlah kutipan yang pan-jang disediakan alternatif yang lebih singkat, bisa dipilih sesuai keadaan.

3.Kutipan yang sulit
Atas pertimbangan pastoral dihindarkan bahwa pada Hari Minggu dan Hari Raya diwartakan kutipan yang sungguh sulit karena akan menimbulkan problem kesusasteraan, penilaian dan penafsiran yang berbelit-belit.

4.Penghilangan beberapa ayat
Atas pertimbangan pastoral, penghilangan beberapa ayat diijinkan asal saja terjamin bahwa makna kutipan yang bersangkutan benar-benar tetap utuh.

2.MAZMUR TANGGAPAN
Mazmur tanggapan, yang disebut juga ‘graduale’, mempunyai makna liturgis dan pastoral yang cukup besar, sebab merupakan unsur pokok dalam liturgi sab-da. Maka dari itu para beriman perlu diajar dengan tekun, bagaimana menangkap firman Allah yang berbicara lewat mazmur-mazmur dan bagaimana mengolahnya menjadi doa Gereja.

Biasanya mazmur tanggapan itu dinyanyikan dengan cara responsorial, yang mana pemazmur membawakan ayat-ayat mazmur, sedangkan seluruh umat ber-peranserta melalui ayat ulangan. Bila dilagukan tanpa ayat ulangan, seluruh mazmur dinyanyikan entah hanya oleh pemazmur, entah oleh semua umat (ber-sama-sama), tanpa diselingi ayat ulangan.

Bila mazmur tanggapan tidak dinyanyikan, hendaknya dibawakan dengan cara didaras atau cara lain yang dianggap paling cocok untuk merenungkan firman Allah.

Mazmur tanggapan dinyanyikan atau didaraskan oleh pemazmur atau solis dari mimbar atau tempat lain yang dianggap pantas. (lihat PUBM no. 36).

3.BAIT PENGANTAR INJIL
Pada bagian ini umat beriman menyongsong dan menyalami Tuhan yang akan bersabda kepada mereka dan mengungkapkan imannya dalam suatu lagu. Bait Pengantar Injil ini harus dinyanyikan, bukan hanya oleh solis yang mengangkatnya atau oleh paduan suara, melainkan sehati sesuara oleh seluruh umat sambil berdiri.

Jika sebelum Injil hanya ada satu bacaan maka hendaknya diperhatikan:
a.Di luar Masa Prapaskah dapat dinyanyikan mazmur beserta alleluia dengan baitnya atau kedua-duanya.

b.Dalam Masa Paskah dapat dinyanyikan mazmur saja atau bait pengantar Injil.

Tidak ada komentar: